April 17, 2026
rizal menai di tanah emas

Oleh: Rizal Tanjung

Di bawah langit yang bercerita,
awan menari dalam ukiran angin,
seperti kisah leluhur yang tak pernah sirna,
menggema di dada pegunungan dingin.

Kami menari di atas tanah yang bernyawa,
tanah yang mengeja hujan dengan rindu,
yang menghidangkan embun di piring daun,
dan menabur cahaya di pucuk rimbun sagu.

Lihatlah tubuh kami,
berlukis pusaran sungai dan jejak burung Cenderawasih,
merekam sejarah dalam irama genderang,
menggetarkan bumi, memanggil leluhur dari kabut pagi.

Kami adalah anak-anak surga yang tersesat,
di negeri yang kaya tapi lapar,
di tanah yang berbisik emas,
tapi kami hanya diberi debu.

Di lembah yang menggenggam matahari,
kami menari dengan kaki telanjang,
sementara perut-perut asing menggali,
mencuri kilau yang bukan milik mereka.

Kami menari, oh kami menari!
Di atas luka yang tak terlihat,
di bawah bayang-bayang pohon yang ditebang,
di antara gemuruh air yang mulai mengering.

Lihatlah, ada tambang emas di sungai kami,
tapi airnya tak lagi bening,
ada nyanyian mesin menggantikan angin,
ada kabut hitam di tempat kabut putih biasa berdendang.

Namun, kami akan tetap menari,
menari seperti ombak yang tak lelah mencumbu pantai,
menari seperti elang yang terbang di cakrawala,
menari hingga hutan kembali bersuara.

Biarkan dunia tahu,
bahwa tanah ini bukan hanya emas,
tanah ini adalah nyawa,
tanah ini adalah tarian,
tanah ini adalah kami.

Maka, selama kaki kami masih kuat,
selama bumi masih berdenyut,
kami akan selalu menari di tanah Papua yang penuh emas,
bukan demi kilau harta yang mereka cari,
tapi demi nyanyian angin yang kami cintai.

Papua,17 Februari 2025