“Kemerdekaan di Panggung Bayangan”
Antologi Satire Puitis
Oleh: Rizal Tanjung
I
Sang Sangkakala Anggaran
Negeri meniup sangkakala,
bunyinya keluar dari pipa APBD yang gemuk,
seperti trompet gading yang hanya berbunyi di telinga kursi empuk.
Sementara rakyat hanya punya rebana reyot,
dibeli dari urunan keringat,
dari sisa uang belanja beras dan minyak goreng.
Tepuk tangan pejabat datang bersama amplop,
tepuk tangan rakyat datang bersama teriakan anak-anak
yang menutup perut laparnya dengan sorak lomba balap karung.
Merdeka jadi musik dua nada:
nada minor di gang sempit,
nada mayor di istana gemerlap.
II
Pertanyaan Tua
Siapakah nasionalis sejati?
Apakah yang duduk di kursi empuk
dengan dasi menjerat leher seperti nisan kehormatan,
atau yang duduk di tikar lusuh,
dikelilingi anak-anak yang berebut kerupuk murahan,
menggantung di tali rafia,
tali yang lebih jujur daripada pita peresmian gedung baru?
Nasionalisme jadi teka-teki silang:
jawabannya selalu berubah,
tapi kotaknya tetap kosong di hati rakyat.
III
Tali Bendera
Bendera pejabat berkibar,
kain impor dengan jahitan pabrik,
dilipat rapi oleh tangan protokol.
Bendera rakyat pun berkibar,
kain bekas yang dicuci dari noda kehidupan,
dijahit ibu-ibu dengan benang air mata
dan mesin tua peninggalan suami yang gugur bukan di medan perang,
melainkan di meja pabrik dengan upah yang tak pernah merdeka.
Bendera ini tak pernah berbohong:
warnanya pudar, tapi darahnya nyata.
IV
Meja Panjang Pejabat
Meja panjang pejabat ditutupi taplak mahal,
di atasnya berdiri kue tart berlapis krim dana publik,
dipotong rapi oleh tangan yang lihai memotong anggaran.
Di meja rakyat, hanya ada singkong rebus,
kopi pahit, dan gula yang dicairkan dengan doa.
Namun senyum rakyat lebih lezat daripada krim,
lebih wangi daripada aroma hotel,
karena mereka tahu:
perayaan sederhana tak bisa dicuri,
seperti tawa anak-anak yang tak punya nota pembelian.
V
Kursi Plastik
Kursi pejabat: berlapis sutra, dijaga protokol,
seperti singgasana yang menganggap dirinya abadi.
Kursi rakyat: kursi plastik sewaan dari tetangga,
salah satu kakinya patah,
tapi ia tetap setia menopang tubuh penuh sorak.
Kursi itu lebih nasionalis daripada pejabat:
ia menahan beban tanpa pernah minta tunjangan.
VI
Barisan Anak
Anak pejabat berbaris rapi,
sepatu mengilap disulap biro anggaran.
Anak rakyat berbaris dengan sandal jepit putus,
tapi dada mereka tegap,
karena di sana berkibar bendera
yang tak pernah dibeli siapa pun.
Mereka tak tahu definisi nasionalisme,
tapi setiap teriakan “Merdeka!”
lebih jujur daripada buku teks sekolah.
VII
Panggung Utama
Panggung utama dihias kembang plastik,
bunga yang abadi seperti janji-janji kosong.
Panggung rakyat dihias kembang kertas warna-warni,
dikerjakan tangan kecil yang masih percaya masa depan.
Kembang kertas itu ditiup angin,
seperti doa yang tak tercetak di baliho,
tapi lebih sampai ke langit
daripada doa pejabat yang terjebak di mikrofon mahal.
VIII
Merdeka di Spanduk
Di kantor, spanduk raksasa dicetak dana APBD,
huruf-hurufnya berdiri tegak seperti tentara plastik.
Di gang kecil, spanduk dibuat dengan cat seadanya:
huruf miring, belepotan, kadang terbalik,
tapi tulus, tak mengenal kuitansi.
Huruf belepotan itu lebih jernih:
ia tak pernah minta nota pembayaran,
tak pernah mencatat “proyek nasionalisme”
di laporan akhir tahun.
IX
Api Unggun
Api pejabat: kembang api,
meledak di langit dengan harga miliaran,
cahayanya sebentar,
hilang bersama suara tepuk tangan basa-basi.
Api rakyat: lilin kecil di tengah lapangan,
dikelilingi anak-anak yang bernyanyi dengan serak,
suara mereka lebih nyaring dari meriam,
karena nyanyian itu lahir dari perut lapar,
bukan dari saldo rekening.
X
Nasionalisme yang Hilang
Nasionalisme pejabat: terbungkus jas,
dijahit rapi oleh penjahit istana.
Nasionalisme rakyat: terbungkus peluh,
jatuh di tanah becek yang melahirkan republik.
Jas bisa dilepas,
peluh tak bisa disembunyikan.
Maka siapakah yang benar-benar merdeka?
XI
Parade Jalan Raya
Pejabat melintas dengan mobil hitam berlapis kaca gelap,
bergorden bendera kecil yang hanya melambai pada kamera televisi.
Sirene meraung,
seperti suara peringatan agar rakyat jangan mendekat terlalu dekat.
Rakyat melintas dengan sepeda ontel,
dihiasi kertas warna-warni dan bambu yang dipotong di kebun belakang rumah.
Tak ada sirene, hanya derit rantai tua
yang lebih merdu daripada klakson mobil dinas.
Anak-anak berlari mengejar sepeda itu,
bukan karena hormat,
tapi karena tawa adalah satu-satunya parade yang gratis.
XII
Doa Tertahan
Doa pejabat: dibacakan dengan teks tebal,
hurufnya tercetak rapi,
diselesaikan dengan tanda tangan yang menunggu laporan bendahara.
Doa rakyat: lirih,
di mushala sempit yang dindingnya retak,
tanpa teks, tanpa tanda tangan,
namun langsung mengetuk langit.
Doa rakyat tak butuh pengeras suara,
karena Tuhan lebih dekat dari sidang paripurna.
XIII
Janji Kemerdekaan
Kemerdekaan pejabat ditulis dalam pidato panjang,
kata-katanya berlapis bumbu retorika,
dihias janji-janji manis
yang meleleh lebih cepat dari lilin listrik istana.
Kemerdekaan rakyat ditulis di wajah keriput,
mata tua yang masih bisa tersenyum
meski hidup tak pernah mengenal libur pajak.
Keriput itu adalah puisi paling merdeka,
tak bisa diedit oleh naskah protokol.
XIV
Upacara di Halaman
Halaman istana berkilau dengan karpet merah,
seperti panggung peragaan busana nasionalisme.
Halaman kampung penuh tanah becek,
sepatu anak-anak belepotan lumpur,
namun mereka tetap berdiri tegak,
karena lumpur itu bagian dari tanah air.
Karpet bisa digulung dan disimpan,
tanah becek selalu kembali,
menjadi nadi yang tak pernah mati.
XV
Kursi Kosong
Di panggung pejabat, selalu ada kursi kosong,
disediakan bagi tamu kehormatan yang sering terlambat datang.
Kursi kosong itu lebih sering mendapat penghormatan
daripada kursi rakyat yang penuh peluh.
Di panggung rakyat, tak ada kursi kosong,
karena setiap kursi ditempati gotong royong,
setiap ruang diisi sorak,
dan setiap kekosongan dilipat dengan tawa.
XVI
Lomba Rakyat
Lomba rakyat bukan sekadar hiburan.
Ada anak yang berlari dengan perut kosong,
namun tetap menang karena semangat lebih cepat dari nasi.
Ada ayah yang kalah tarik tambang,
namun tertawa sambil menepuk punggung lawan,
karena lomba itu bukan tentang hadiah,
tapi tentang ingatan:
bahwa merdeka artinya berbagi kekalahan
dan merayakan kemenangan bersama.
XVII
Nasi Bungkus
Makan siang pejabat: kotak katering hotel,
berlapis plastik, lengkap dengan label gizi,
sering ditinggalkan setengah
karena terlalu sibuk berpidato tentang rakyat.
Makan siang rakyat: nasi bungkus daun pisang,
tempe goreng, sambal, dan segenggam syukur.
Bedanya hanya satu:
nasi bungkus dimakan sampai habis,
karena syukur tak pernah menyisakan remah.
XVIII
Lagu Nasional
Di mulut pejabat, lagu nasional terdengar formal,
dibawakan dengan nada seragam,
seperti rekaman yang diputar ulang.
Di mulut rakyat, lagu nasional terdengar serak,
kadang fals, kadang tercekat,
namun lebih jujur.
Fals itu lebih indah daripada nada sempurna,
karena ia datang dari dada yang percaya,
bukan dari tenggorokan yang dilatih protokol.
XIX
Kemerdekaan di Dompet
Kemerdekaan pejabat bersemayam di saldo rekening,
tiga digit nol yang mengembang seperti bendera raksasa.
Kemerdekaan rakyat terselip di dompet tipis,
hanya berisi beberapa lembar lusuh,
namun masih disisihkan receh
untuk membeli bendera kecil di pinggir jalan.
Nasionalisme pun terkadang lahir dari seribu perak,
bukan dari miliar yang hilang di laporan audit.
XX
Bendera Sobek
Di kantor, bendera selalu baru tiap tahun,
warnanya mencolok, kainnya wangi toko.
Di kampung, bendera lama masih dikibarkan,
warnanya pudar, kainnya sobek,
tapi disitu sejarah tak pernah terhapus.
Sobek itu adalah catatan,
bahwa kain pun bisa lebih jujur daripada pejabat.
XXI
Senyum Anak Jalanan
Kemerdekaan bukan pidato panjang,
tapi senyum anak jalanan yang tetap tertawa,
walau kakinya tak bersandal saat upacara di sekolah.
Di wajahnya, bendera berkibar bukan karena kain,
tapi karena gigi ompong yang masih berani tersenyum
pada negeri yang jarang membalas senyumnya.
XXII
Mikrofon dan Megafon
Pejabat berbicara dengan mikrofon mahal,
suara mereka menggaung di stadion penuh kursi kosong.
Rakyat berbicara dengan megafon pinjaman,
suara seraknya terdengar lebih dekat,
karena didengar dengan hati,
bukan hanya telinga.
Serak lebih merdeka daripada gema kosong.
XXIII
Kembang Api dan Api Perut
Langit kota dihiasi kembang api berwarna-warni,
meledak seperti saldo APBD yang terbakar.
Langit kampung dihiasi petasan kecil,
kadang hanya menyisakan asap tipis.
Namun di perut rakyat,
api lapar menyala tanpa pesta,
lebih terang daripada ribuan letupan cahaya.
Itulah kembang api sejati
yang tak pernah padam meski tahun berganti.
XXIV
Barisan Ibu
Ibu pejabat duduk di kursi VIP,
dandanannya seragam dengan bros emas nasionalisme.
Ibu rakyat duduk di tikar anyaman,
sambil mengipas anaknya dengan selembar kertas.
Namun kipasan itu lebih jujur daripada penghormatan,
karena angin kecil dari tangan seorang ibu
lebih sejuk daripada pidato panjang siapa pun.
XXV
Monumen Nasional
Monumen dibangun dari beton,
dengan prasasti nama pejabat yang ingin abadi.
Namun monumen sejati adalah rakyat,
yang setiap tahun masih rela mengibarkan bendera
di halaman sempit,
meski tubuh mereka sendiri rapuh.
Beton bisa retak,
tapi ingatan rakyat lebih kuat dari prasasti.
XXVI
Korupsi Kemerdekaan
Ada pejabat yang mencuri bahkan dari pesta kemerdekaan,
menyisakan bon palsu di meja rapat.
Ada rakyat yang rela memotong uang sekolah anaknya
untuk membeli cat merah-putih.
Maka siapa yang lebih nasionalis?
Yang mencuri dengan seragam jas,
atau yang berkorban dengan kaus belel?
XXVII
Panggung Satire
Sejarah menertawakan dirinya sendiri:
pejabat bicara tentang pengorbanan pahlawan,
sambil memakai jas yang dibeli dengan uang rakyat.
Rakyat hanya diam,
karena mereka tahu,
darah pahlawan tak pernah cair di rekening bank.
Mungkin satu-satunya yang benar-benar tertawa
hanyalah sejarah itu sendiri.
XXVIII
Hujan di Hari Upacara
Hujan turun di lapangan kampung,
rakyat tetap berdiri dengan baju basah,
karena hujan adalah bagian dari kemerdekaan.
Hujan turun di lapangan istana,
payung besar segera terbuka,
takut kebasahan,
takut jas mahal kehilangan wibawa.
Merdeka mana yang lebih basah:
badan yang kuyup,
atau hati yang kosong?
XXIX
Wajah Kemerdekaan
Wajah pejabat difoto kamera televisi,
dengan pencahayaan sempurna dan sudut kehormatan.
Wajah rakyat difoto kamera ponsel murahan,
kadang blur, kadang gelap.
Namun wajah rakyat lebih jernih,
karena cahaya kemerdekaan
tak pernah butuh filter.
XXX
Tanya Terakhir
Kemerdekaan, kau ingin bersemayam di mana?
Di podium mewah dengan mikrofon emas,
atau di mulut bocah kecil
yang menyanyikan lagu kebangsaan
tanpa hafal seluruh baitnya?
Apakah kau milik pejabat,
atau kau pulang pada rakyat?
Apakah kau duduk di kursi kosong protokol,
atau berdiri di tanah becek lapangan kampung?
Kemerdekaan, jawab dengan jujur:
apakah engkau panggung bayangan,
atau engkau rumah cahaya
yang kembali ke dada rakyat sederhana?
Sumatera Barat,2025