KIDUNG CINTA GADIS PAPUA
Oleh: Rizal Tanjung
–
di bawah langit timur yang menyala merah,
aku melihatmu, gadis papua yang elok,
kulit cokelatmu bercahaya diterpa senja,
rambutmu bergelombang bagai ombak yang menari di teluk.
oh, kasih, engkau bagai burung cendrawasih,
menari dengan angin, berbisik dengan alam,
kain rumbai membalut tubuhmu indah,
tatapanmu sehangat matahari yang menyentuh lautan.
di antara rimbun pepohonan sagu,
kau berjalan, lincah seperti sungai yang jernih,
langkahmu gemulai di tanah leluhurmu,
mengalun dalam irama yang tak pernah letih.
aku ingin menjadi angin pegunungan,
membelai wajahmu yang penuh pesona,
aku ingin menjadi nyanyian ombak,
mendekap hatimu dalam harmoni cinta.
oh, gadis papua, kekasihku yang ayu,
biarkanlah aku menjadi matahari pagimu,
menghangatkan tubuhmu saat fajar menyingsing,
mewarnai hari-harimu dengan cahaya kasih.
jika malam tiba dan bintang berkedip,
izinkan aku menjadi bulan di langitmu,
menjaga tidurmu dengan bisikan lembut,
menemani mimpimu hingga subuh menyapa.
di atas rumput ilalang,
aku menunggu senyum manismu,
menanti suaramu yang lembut bagai seruling,
menggema di hati, mengikat jiwaku.
kasih, dalam tarianmu kutemukan kisah,
dalam suaramu kudengar lagu cinta,
kaulah puisi yang ditulis alam papua,
kaulah rindu yang menari dalam jiwa.
jika angin membawa namamu ke lautan,
aku akan mengukirnya di batu karang,
agar ombak tak bisa menghapusnya,
agar selamanya kau tinggal di hatiku.
oh, gadis papua, dewi tanah surga,
kau adalah keindahan yang tak tergantikan,
cinta ini sejernih air danau sentani,
sedalam samudra, seluas cakrawala.
biarlah kasih ini menjadi ukiran sejarah,
di taman bunga, di pasir, di nyanyian suku,
aku mencintaimu dengan seluruh jiwaku,
dalam tarian, dalam rindu, dalam waktu.
Papua, 19 Februari 2025.