April 17, 2026
Nyamplungan Terhampir dalam Malam, Surabaya, 31-1-2025

Yusuf Achmad

Nyamplungan terbangun dari tidurnya,
Ketika namanya dibisikkan lembut oleh angin malam.
“Bila harum dan indahmu sirna, bagaimana akan kupintal cintaku setelah itu, o Nyamplungan,”
Bisik kekasih di luar sana, kudengar jelas dalam bayangan.
Nyamplungan pun menjawab,
“Cintamu bukan sekadar harum dan indah, tapi selalu memancar dalam keberkahan baru.”

Puisi-puisi mereka berdialog, tak menghiraukan
Nyamplungan menjadi saksi bisu.
Nyamplungan hanya membisu,
Mengenang dinding-dinding tanpa batu, berbicara di jagat maya
dengan aksara yang menggetarkan. Wajah itu tersenyum,
dan pada tulisan terukir sebuah ikrar,
“Duhai Nyamplungan, kutakan kembali.”
Namun, dinding-dinding itu tetap tak retak,
meski akhirnya lenyap entah ke mana.
Kucari, kuklik ke segala penjuru, sia-sia,
kalam cinta itu seakan terkunci.
Kata puisi lainnya, ia teracak, dihack oleh jalinan waktu,
Terkunci seperti hati yang menutup cintanya padaku,
Dan bayang-bayang masa lalu merantau.

31-1-2025