Mantra antara Air Mata dan Tawa
Yusufachmad bilintention
Mendengar tawa, hati pun ikut berbunga
Seakan gelombang bahagia menular tanpa jeda
Namun tangis yang lirih, mengiris jiwa
Membawa pilu, menyelimuti sukma
Tawa si kecil, laksana peluncur endorfin ke angkasa
Membebaskan beban, menyulap dunia jadi ceria
Tangis dari layar drama, kadang terasa hampa
Mengingatkan kita pada luka yang tak nyata
Antara kepalsuan dan kemurnian
Antara bahagia sejati dan tangis yang berperan
Mana yang tulus, mana yang sekadar sandiwara
Hanya hati yang jujur mampu membacanya
__________________________________________
Tawa bayi tak pernah lelah berulang
Mengundang dekapan, bisikan, dan pelukan
Mata mungilnya menjawab tanpa kata
Bibir mungilnya menyulam dunia tanpa cela
Dinding pun tersenyum, angin ikut bersorak
Jiwa-jiwa yang lelah pun kembali segar
Tawa itu bukan sekadar suara
Ia adalah mantra yang menyembuhkan luka
___________________________________________
Tangis si renta, lirih memohon ampun
Air matanya membasahi sajadah penuh harap
Doa-doanya mengalir tanpa jeda
Tak ada yang kering, kecuali waktu yang berlalu
Berbeda dengan tangis seorang ibu
Yang disimpan rapi seperti emas dalam peti
Tak boleh terlihat, meski kasihnya tak bertepi
Ia menangis dalam diam, dalam peluk yang tak henti
____________________________________________
Tawa dan tangis adalah nyanyian jiwa
Bergema dalam lorong waktu, tak pernah henti bersuara
Kadang memanggil tawa, kadang memeluk luka
Mereka bukan sekadar lagu, tapi gema semesta
Hanya jiwa yang tabah mampu menari di antara nada
Menjadikan derita sebagai syair, bahagia sebagai irama
Hidup bukan sekadar cerita, tapi puisi yang terus ditulis
Dengan tinta air mata dan senyum yang tak habis
Surabaya, 23 September 2025