April 17, 2026

Yusufachmad bilintention

Mendengar tawa, hati pun ikut berbunga
Seakan gelombang bahagia menular tanpa jeda
Namun tangis yang lirih, mengiris jiwa
Membawa pilu, menyelimuti sukma

Tawa si kecil, laksana peluncur endorfin ke angkasa
Membebaskan beban, menyulap dunia jadi ceria
Tangis dari layar drama, kadang terasa hampa
Mengingatkan kita pada luka yang tak nyata

Antara kepalsuan dan kemurnian
Antara bahagia sejati dan tangis yang berperan
Mana yang tulus, mana yang sekadar sandiwara
Hanya hati yang jujur mampu membacanya

__________________________________________

Tawa bayi tak pernah lelah berulang
Mengundang dekapan, bisikan, dan pelukan
Mata mungilnya menjawab tanpa kata
Bibir mungilnya menyulam dunia tanpa cela

Dinding pun tersenyum, angin ikut bersorak
Jiwa-jiwa yang lelah pun kembali segar
Tawa itu bukan sekadar suara
Ia adalah mantra yang menyembuhkan luka

___________________________________________

Tangis si renta, lirih memohon ampun
Air matanya membasahi sajadah penuh harap
Doa-doanya mengalir tanpa jeda
Tak ada yang kering, kecuali waktu yang berlalu

Berbeda dengan tangis seorang ibu
Yang disimpan rapi seperti emas dalam peti
Tak boleh terlihat, meski kasihnya tak bertepi
Ia menangis dalam diam, dalam peluk yang tak henti

____________________________________________

Tawa dan tangis adalah nyanyian jiwa
Bergema dalam lorong waktu, tak pernah henti bersuara
Kadang memanggil tawa, kadang memeluk luka
Mereka bukan sekadar lagu, tapi gema semesta

Hanya jiwa yang tabah mampu menari di antara nada
Menjadikan derita sebagai syair, bahagia sebagai irama
Hidup bukan sekadar cerita, tapi puisi yang terus ditulis
Dengan tinta air mata dan senyum yang tak habis

Surabaya, 23 September 2025