April 18, 2026

Oleh: Rizal Tanjung

I.

Di ujung dinding Yerusalem yang mengelupas,
matahari tersandung pada serpih sejarah yang disembunyikan.
Angin gurun menggurat luka di punggung pasir,
dan Gaza, segumpal abu di ujung peta,
menjadi catatan kaki dalam buku geografi kekuasaan.

Anak-anak lahir dari rahim kegelapan,
belajar abjad dari abuk mesiu,
dan menggambar bintang bukan di langit,
melainkan di dinding penjara—dengan darah.

II.

Ada yang menulis sajak tentang cinta di balik jendela,
tapi para jenderal menulis arah rudal
dengan pena bersampul kulit buaya.

Di ruang ber-AC, para pemangku keputusan
menyesap anggur dari gelas berbentuk peluru,
dan mencocokkan titik-titik serangan
dengan irama lagu kebangsaan.

Diplomasi kini tak lebih dari parfum mahal
yang disemprotkan ke bangkai.

III.

Perintah adalah mantra,
yang ditulis di atas pasir dengan bayonet.
Damai hanyalah kemungkinan yang muncul
bila lawan bicara sudah diam
atau dibungkam dengan ranjau.

Lihatlah kota:
atap-atapnya seperti kelopak bunga yang dirontokkan musim,
masjidnya bagai gua gelap tak bertuhan,
dan rumah sakit jadi labirin tulang dan besi—
tak ada yang sembuh dari ledakan.

IV.

Mayat tidak punya paspor.
Anak yang remuk tidak punya ideologi.
Ibu yang menggali tanah dengan tangan telanjang
tak sedang memilih partai,
ia sedang mencari serpih tubuh anaknya
yang terkubur bersama mimpi bersekolah.

Apakah yang hening adalah yang kalah?
Atau yang mati terlalu cepat
untuk tahu di pihak mana mereka pernah berdiri?

V.

Di balik tirai hotel berbintang lima,
kata “perdamaian” dilafalkan seperti doa yang lupa artinya.
Sementara di Gaza,
langit sudah bosan jadi langit—
ia jadi atap dari kamar mayat terbuka.

Mereka berkata: “Kami sedang menuju gencatan.”
Tapi jam tangan para korban sudah retak,
dan detiknya hanya berdetak pada satu nada:
tangis yang tak sempat direkam.

VI.

Jika tak ada tanda tangan,
maka bom menjadi tanda baca,
dan peluru jadi huruf kapital.

Laporan kemajuan dicetak dari reruntuhan kota.
“Target tercapai,” kata seorang perwira,
sambil menunjuk sekolah yang kini jadi kerangka besi.

Di kantor mereka, kemenangan
adalah bagan PowerPoint berdarah.

VII.

Di setiap kubu, Tuhan diangkat seperti senjata,
dimasukkan ke dalam slogan,
dilipat dalam doa yang tergesa.

Tuhan, jika Ia belum kabur,
mungkin tengah berjongkok di bawah pohon zaitun terakhir,
menangis karena nama-Nya kini tercetak di peluru mortir,
dan dimasukkan ke dalam pesawat tanpa awak.

Apakah Tuhan masih mendengar,
atau telinga-Nya telah diledakkan propaganda?

VIII.

Apakah perang ini untuk hidup,
atau sekadar memastikan lebih banyak yang mati?

Apakah tanah ini begitu suci
hingga darah harus jadi air suci pengudusnya?

Apakah kemenangan masih bisa dirayakan,
jika satu-satunya yang tersisa adalah kesunyian
dan reruntuhan yang berbisik:
“Tak ada yang pulang dari sini sebagai manusia.”

IX.

Gaza kini adalah almanak musim kiamat,
tiap harinya dibuka dengan jerit,
dan ditutup dengan laporan jumlah jenazah.

Hujan tak lagi turun dari langit,
tapi dari drone—
meneteskan api dan logam ke kebun delima.

Tak ada puisi yang cukup panjang
untuk menjahit luka tanah ini.
Tak ada khutbah yang cukup sakral
untuk mengangkat nyawa dari puing.

X.

Jika damai adalah janji yang terus dilupakan,
maka perang adalah pekerjaan abadi
yang dikelola dengan target bulanan.

Gaza bukan kota—
ia adalah perusahaan kematian
dengan departemen ledakan,
divisi trauma,
dan direktur utama: ketakutan.

Di sini, kebenaran dikuburkan hidup-hidup,
di antara kabel listrik yang meleleh dan tulang-tulang mungil.

Dan mereka yang mati tak pernah mendapat waktu
untuk bertanya:
“Apakah ada yang memperjuangkan kami,
atau kami sekadar angka dalam grafik berita dunia?”

Ditulis dari tanah yang masih mencium abu peperangan,

Sumatera Barat, 2025.