April 17, 2026

Yusufachmad Bilintention

Puisiku kembali menggumam tentang wajah,
Meski tak serupa dengan yang pertama, ini wajah kedua.
Dua, bahkan tiga wajah berpadu dalam narasi dan puisi,
Tentang pencuri dan wajah-wajah yang menyimpan makna dan rahasia sunyi.

Wajah pertama menguak kehilangan di ruang ilmu,
Terkuaklah sosok pencuri, rindu kasih ibu dan keluarga.
Ayah bergelimang harta, ibu sibuk dalam dunia niaga,
Saudara lelaki semua, namun ia hempaskan wajahnya
Demi menggali perhatian dan cinta yang lama dirindu.

Wajah kedua: jantan, lugu, matanya kosong tak berwarna.
Wajah yang lahir dari ayah-ibu yang membiarkannya berkeliaran tanpa arah.
Saudara-saudaranya pun mencari makna di dunia yang kejam,
Belantara kehidupan menyesatkan langkah,
Ia pun tersesat, meski belum seluruh kisah terungkap.

Wajah ketiga: korban perpisahan orang tua.
Apakah mereka peduli, atau hanya ego yang bicara?
Ia menjadi bayangan luka dari cinta yang retak,
Wajah pencuri yang menyimpan misteri, duka, dan nestapa.

Surabaya, September, 2025