“Pohon Zaqqūm”
Antologi Puisi
Oleh: Rizal Tanjung
—
1
Akar Api yang Menghisap Dosa
Dari perut bumi yang pernah basah oleh doa,
tumbuhlah akar yang tidak mencari air,
melainkan darah manusia yang tertumpah di pasar sejarah.
Ia menyerap tangis yang jatuh dari mata anak-anak yatim,
menyedot jerit ibu yang kehilangan suaminya di medan perang,
dan mengunyah sumpah serapah yang dilontarkan penguasa
saat menandatangani kontrak penindasan.
Lalu, dari akar itu, muncullah batang:
tidak hijau, tidak harum, tidak anggun,
melainkan bara merah yang menjulang,
seperti obor raksasa yang ingin menelan langit.
Batang itu berdenyut, seakan-akan ia hidup,
menyimpan denyut jantung koruptor,
detak nadi pengkhianat,
dan napas panjang para tiran yang menutup mata terhadap kebenaran.
Dari batang itu, lahirlah cabang-cabang kelam,
membentang seperti lidah naga,
mencari mangsa, mengais wajah manusia,
menguap seperti kabut hitam yang menyesakkan dada.
Buahnya—ah, buahnya!
Jangan pernah bayangkan apel atau anggur,
karena buah itu adalah wajah-wajah yang pernah kita kenal:
senyum pejabat yang licin seperti belut,
mata pengusaha yang menyimpan seribu tipu daya,
lidah pemuka agama yang berjualan surga dengan harga murah.
Mereka tergantung di sana,
kepala-kepala setan yang busuk namun tetap tertawa,
mengerling dari pohon dosa,
mengundang orang lapar untuk mendekat,
hanya agar perut mereka meledak oleh api.
Dan di bawah pohon itu,
ada sungai hitam: bukan air,
melainkan nanah, darah, dan minyak bumi
yang pernah diperebutkan manusia dengan senjata.
Mereka yang minum darinya
akan haus lebih dari sebelumnya,
mereka yang makan buahnya
akan lapar lebih dari sebelumnya.
Begitulah, Pohon Zaqqūm berdiri,
sebagai saksi bahwa manusia menanam dirinya sendiri
di ladang neraka.
Apa yang ditabur di dunia,
itulah yang tumbuh di akhirat.
Dan siapa yang menyangkalnya?
Ia akan memakan buah dari tangannya sendiri,
akan menelan bayangan dari lidahnya sendiri,
akan meminum racun dari keringatnya sendiri.
Pohon Zaqqūm bukan sekadar pohon.
Ia adalah kita—
yang lupa menanam cinta,
yang lupa menyiram kebenaran,
yang lupa memberi teduh kepada sesama.
Kini, kita panen api.
Kini, kita memetik bara.
Kini, kita duduk di bawah bayangan
yang tak pernah memberi sejuk,
melainkan membakar sampai ke sumsum jiwa.
—
2
Buah Kepala Setan
Di cabang-cabang neraka yang bercahaya gelap,
buah itu bergelantungan—
bukan permata, bukan delima, bukan kurma.
Ia adalah kepala setan yang tersenyum
seperti politisi yang baru saja memenangkan kursi,
seperti saudagar yang menutup kontrak dengan darah rakyat,
seperti jenderal yang menukar nyawa dengan medali.
Setiap buah itu berdenyut,
urat-uratnya tampak menegang,
matanya berputar-putar
seperti bintang palsu yang dijual di langit malam televisi.
Mereka yang lapar,
yang berharap ada roti di tangan malaikat,
hanya menemukan buah ini:
pahit, busuk, meledak di mulut
seperti granat yang menghancurkan lidah.
Mereka menelan,
dan perut mereka mendidih,
melelehkan nadi menjadi sungai api,
membakar tenggorokan seperti obor takdir.
Begitulah, buah Zaqqūm tidak memberi kenyang,
melainkan meminjamkan lapar yang lebih dalam,
dan dari sana manusia tahu:
yang mereka makan di dunia
adalah kebohongan yang kini tumbuh menjadi kepala setan.
—
3
Bayangan yang Tidak Memberi Teduh
Ada pohon-pohon yang tumbuh di dunia
untuk memberi teduh:
bernaung di bawahnya adalah rahmat.
Tapi Zaqqūm tidak mengenal kata teduh.
Bayangannya adalah asap,
dan siapa pun yang duduk di bawahnya
akan menemukan dadanya dicekik
oleh jari-jari kabut yang hitam.
Bayangan itu berjalan,
menyusup ke nadi,
mencari lorong-lorong di kepala manusia,
mencuri sisa-sisa doa yang pernah terlontar.
Tidak ada angin di sana.
Tidak ada burung yang bernyanyi.
Tidak ada anak-anak berlari sambil tertawa.
Hanya bayangan pekat
yang meneteskan racun ke dalam jiwa.
Mereka yang berharap istirahat,
mendapati tidur mereka dipenuhi mimpi buruk,
dan ketika terbangun,
pohon itu masih berdiri—
dingin sekaligus panas,
gelap sekaligus membara.
Teduhnya hanyalah penjara.
Naungannya hanyalah luka.
Ia adalah malam yang menolak bintang,
adalah siang yang menolak matahari.
—
4
Sungai Nanah di Bawah Akar
Lihatlah akar-akar itu,
yang tidak mencari air tanah,
melainkan meneteskan nanah
dari tubuh manusia yang pernah berkhianat.
Sungai itu hitam,
bergelombang seperti minyak tumpah,
berbau seperti janji busuk yang dipelihara dalam rapat gelap.
Orang-orang kehausan,
tenggorokan mereka kering seperti padang pasir yang dilupakan,
lalu mereka meneguk cairan itu—
tidak segar, tidak manis, tidak melegakan,
melainkan racun yang membakar
hingga seluruh organ mereka menjerit.
Di dunia, mereka pernah meneguk anggur,
menikmati madu,
menelan gula yang mahal,
tapi di akhirat, minuman mereka adalah
sungai nanah yang mendidih.
Akar Zaqqūm seperti pipa neraka,
menyalurkan segala busuk dari masa lalu:
darah yang ditumpahkan demi kuasa,
keringat yang diperas demi laba,
air mata yang diperdagangkan demi senyum palsu.
Mereka semua mengalir,
bersatu menjadi satu sungai
di bawah akar Zaqqūm,
dan siapa yang haus akan tahu:
kehausan adalah azab,
dan minumannya adalah luka.
—
5
Lidah Api yang Menyanyi
Zaqqūm punya suara.
Bukan suara dedaunan,
bukan suara burung,
bukan suara angin.
Ia punya lidah api yang menyanyi,
lagunya panjang, merdu bagi setan,
tetapi mengiris telinga manusia.
Lidah itu mengucapkan nama-nama
yang dulu agung di dunia:
raja, presiden, jenderal, ulama palsu, pedagang iman.
Semua dipanggil satu per satu,
seperti daftar absen di ruang sidang neraka.
Setiap nama yang dilafalkan,
batang Zaqqūm bergetar,
buahnya bergoyang,
dan kepala-kepala setan tertawa bersama.
Nyanyian itu bukan hiburan,
melainkan pengadilan.
Setiap baitnya adalah tuduhan,
setiap nada adalah cambuk,
setiap refrein adalah vonis.
Dan manusia yang mendengarnya
menyadari satu hal:
bahwa hidup hanyalah sebuah lagu,
dan mereka telah menulis liriknya sendiri
dengan tinta darah dan tinta kebohongan.
Zaqqūm hanya menyanyi ulang—
dengan lidah api yang tak pernah padam.
—
6
Perut yang Mendidih
Mereka yang memakan buah Zaqqūm,
tidak pernah kenyang.
Perut mereka bukan lagi perut manusia,
melainkan tungku yang menyala,
dipenuhi bara yang berdesis,
seperti dandang air yang mendidih di rumah kosong.
Setiap kunyahan buah itu adalah bom,
meledak di dalam lambung,
merobek dinding usus,
membakar arteri menjadi abu.
Mereka menggeliat,
mereka meronta,
mereka berteriak:
“Air! Air!”
tapi hanya sungai nanah yang menjawab.
Dan saat mereka meneguknya,
tenggorokan mereka terbakar lagi,
seakan-akan dunia dan akhirat
bersekongkol untuk membuat mereka
merasakan apa arti lapar yang tidak berakhir,
haus yang tidak bertepi,
dan api yang tidak mengenal mati.
Begitulah, perut manusia adalah saksi.
Ia pernah diisi dengan makanan haram,
dengan hasil rampasan,
dengan uang kotor yang dicuri dari rakyat.
Kini ia menjadi tungku,
dan pemiliknya adalah arang yang mendidih.
—
7
Daun yang Tidak Berwarna
Zaqqūm tidak mengenal hijau.
Daunnya adalah abu,
kering seperti janji yang dilupakan,
tipis seperti dusta yang dipoles.
Daun-daun itu berguguran,
bukan menenangkan,
melainkan melukai wajah yang ditimpa,
seperti pisau tipis yang meneteskan darah.
Tidak ada fotosintesis di sana,
karena cahaya tidak pernah singgah.
Matahari pun enggan melihatnya,
bulan pun menolak memantulkannya.
Setiap helai daun adalah surat:
ada yang ditulis dengan air mata pekerja,
ada yang ditulis dengan keringat petani,
ada yang ditulis dengan darah anak-anak
yang mati di medan perang buatan orang dewasa.
Ketika daun itu jatuh,
terbaca semua rahasia,
dan manusia sadar:
tak ada yang bisa disembunyikan.
Hijau adalah kehidupan.
Tapi daun Zaqqūm adalah arsip kebusukan
yang menolak warna,
menolak wangi,
menolak cinta.
—
8
Ranting-Ranting Kebohongan
Ranting Zaqqūm menjulur
seperti tangan yang ingin menjerat.
Tidak lurus, tidak indah,
melainkan bengkok, retak, dan berliku,
seperti garis nasib yang ditulis dengan tipu daya.
Setiap ranting adalah kebohongan
yang pernah dibiarkan tumbuh.
Ia berawal dari kata sederhana:
“tidak apa-apa,”
“akan sejahtera,”
“demi rakyat.”
Tapi dari kata itu,
ranting membesar,
menjadi tangan yang memukul,
menjadi cambuk yang melukai,
menjadi jerat yang mencekik.
Orang-orang mencoba mematahkan ranting itu,
namun ia elastis,
selalu tumbuh kembali,
karena kebohongan tidak pernah mati,
ia hanya beranak-pinak
dari lidah manusia yang tak jujur.
Zaqqūm adalah pohon kebohongan.
Rantingnya bukan sekadar kayu,
melainkan sejarah yang bengkok,
yang terus tumbuh
selama manusia memberi pupuk
bernama dusta.
—
9
Asap yang Mencekik
Dari batangnya, keluar asap.
Bukan wangi gaharu,
bukan harum cendana,
melainkan asap hitam,
tebal, pekat, menyayat mata.
Asap itu mengepul ke langit,
tapi langit tidak menerimanya.
Maka ia turun kembali,
menyelimuti manusia,
mencekik leher mereka
sampai suara tak bisa keluar.
Mereka mencoba berteriak,
tapi suara tenggelam,
seperti ikan yang dilempar ke daratan.
Mereka mencoba berlari,
tapi asap mengikuti,
seperti anjing lapar yang tak pernah berhenti memburu.
Asap itu bukan sekadar udara kotor,
ia adalah nafas manusia sendiri,
yang dulu dipakai untuk mengumpat,
untuk berbohong,
untuk bersumpah palsu.
Kini ia kembali,
menjadi kabut yang mencekik,
menjadi udara yang melumpuhkan,
menjadi kabar buruk yang tak bisa ditutup-tutupi.
Zaqqūm adalah paru-paru neraka.
Dan siapa pun yang menghirupnya,
akan tahu betapa sesak hukuman itu.
—
10
Pohon yang Menolak Mati
Banyak pohon di dunia yang mati.
Ditebang, terbakar, tumbang oleh angin.
Tapi Zaqqūm tidak mengenal mati.
Api bukan musuhnya,
karena ia lahir dari api.
Air tidak bisa memadamkannya,
karena ia menolak basah.
Waktu pun tidak bisa meruntuhkannya,
karena ia tumbuh di tanah abadi.
Ia akan selalu ada,
selama manusia masih menanam dosa.
Setiap kebohongan, satu ranting baru.
Setiap keserakahan, satu buah baru.
Setiap pengkhianatan, satu daun baru.
Zaqqūm adalah pohon sejarah
yang tidak pernah ditebang.
Ia mencatat,
ia menyimpan,
ia mengabadikan semua yang ingin kita lupakan.
Dan ketika dunia berakhir,
pohon itu tetap berdiri,
menjadi monumen dari keburukan,
museum dari kejahatan,
arsip dari segala kesalahan.
Ia adalah pohon yang menolak mati,
karena yang ia simpan
adalah wajah sejati manusia.
—
11
Lidah yang Terbelah
Zaqqūm punya lidah,
panjang, bercabang, terbelah dua,
seperti ular yang mengintip dari rongga dunia.
Lidah itu menjilat-jilat wajah manusia,
meninggalkan jejak luka,
meneteskan racun ke dalam telinga,
mengubah kebenaran menjadi bisikan,
dan bisikan menjadi kebohongan yang meyakinkan.
Orang-orang mendengarnya,
mereka percaya,
mereka tertipu.
Dan akhirnya, mereka sendiri tumbuh menjadi cabang
dari pohon yang sama.
Lidah terbelah itu bukan sekadar milik setan,
melainkan lidah manusia sendiri,
yang pernah berjanji lalu ingkar,
yang pernah bersumpah lalu berkhianat,
yang pernah menyebut nama Tuhan
tapi menjual-Nya di pasar dunia.
Kini, lidah itu membesar,
menjadi nyala api,
menjulur ke langit neraka,
berbicara dengan bahasa yang tak bisa dibantah:
bahwa setiap kata yang keluar dari mulut
akan kembali sebagai cambuk.
—
12
Taman Gelap Tanpa Burung
Tidak ada burung di taman Zaqqūm.
Tidak ada merpati,
tidak ada kenari,
tidak ada kicauan pagi.
Yang ada hanyalah taman gelap,
di mana cabang-cabang pohon
saling bersilangan seperti tulang belulang manusia.
Taman itu sunyi,
tetapi bukan sunyi yang menenangkan,
melainkan sunyi yang menakutkan,
seperti ruang kosong yang memantulkan jerit manusia.
Setiap langkah di sana
seperti berjalan di atas bara,
setiap hembusan nafas
seperti menelan asap yang menusuk paru-paru.
Taman gelap itu adalah kebalikan
dari surga yang berisi sungai susu dan madu.
Ia adalah antitesis dari rahmat.
Ia adalah peringatan bahwa
tidak semua taman berarti indah.
Zaqqūm adalah bunga tunggal di taman itu,
mekar dengan racun,
dan siapa pun yang mencium aromanya
akan tahu, bahwa inilah taman neraka,
taman tanpa burung,
taman tanpa doa.
—
13
Bara di Tengah Buah
Orang-orang menyangka buah Zaqqūm
adalah daging yang bisa dimakan.
Mereka menggigitnya dengan ragu,
mereka berharap ada manis yang tersembunyi.
Namun begitu kulitnya robek,
dari dalam keluar bara.
Api cair,
menyembur seperti gunung berapi,
menghanguskan bibir,
melumat gigi,
membakar tenggorokan dari dalam.
Mereka berusaha meludahkannya,
tapi api itu melekat.
Mereka ingin menutup mulut,
tapi lidah mereka sudah terlanjur terbakar.
Buah itu tidak bisa ditelan,
tidak bisa dimuntahkan.
Ia menetap di dalam tubuh,
menjadi benih baru
yang akan tumbuh menjadi pohon
di dalam dada manusia.
Begitulah dosa bekerja.
Ia bukan hanya makanan,
bukan hanya racun,
tapi benih yang melahirkan generasi neraka.
Buah Zaqqūm adalah rahim dari api,
dan siapa pun yang merasakannya
akan tahu:
ia sedang mengandung bara.
—
14
Akar yang Mengikat Kaki
Akar Zaqqūm tidak tinggal diam.
Ia menjulur ke segala arah,
mencari kaki manusia,
melilitnya,
mengikatnya seperti rantai.
Orang-orang berusaha lari,
mereka berlari dari pohon,
berlari dari sungai nanah,
berlari dari bayangan asap.
Namun langkah mereka terhenti,
karena akar itu sudah menjerat.
Mereka jatuh tersungkur,
dan dari tanah, akar itu menusuk
seperti tombak yang terbuat dari bara.
Tidak ada tempat bersembunyi.
Tidak ada celah untuk kabur.
Karena akar Zaqqūm bukan sekadar akar,
ia adalah catatan masa lalu
yang menahan manusia dari kebebasan.
Setiap jejak yang ditinggalkan di bumi
menjadi simpul di akar itu,
dan simpul itu kini menjerat,
tak bisa dilepaskan.
Mereka terperangkap
oleh langkah mereka sendiri.
Dan Zaqqūm hanya tersenyum,
karena akar-akar itu tahu:
tak ada kaki yang bisa lepas dari sejarah.
—
15
Pohon yang Berbicara dengan Api
Zaqqūm bukan pohon bisu.
Ia berbicara—
bukan dengan suara manusia,
bukan dengan bahasa burung,
melainkan dengan lidah api.
Setiap kali ia bicara,
percikan menyembur dari batang,
menggambar wajah-wajah di udara,
wajah orang-orang yang pernah hidup di bumi.
Ia memanggil mereka,
satu per satu,
dengan bahasa bara.
“Engkau, yang menimbun emas di lemari besi,
datanglah dan makan buahmu sendiri.”
“Engkau, yang membiarkan anak yatim kelaparan,
minumlah dari sungai nanah di akarku.”
“Engkau, yang menjual doa dengan harga pasar,
bernaunglah di bayanganku yang mencekik.”
Dan setiap kalimatnya adalah vonis,
setiap percikan apinya adalah segel.
Zaqqūm berbicara,
dan tidak ada manusia yang bisa membantah.
Karena kata-katanya lahir
dari catatan yang ditulis manusia sendiri.
Suara api adalah suara kebenaran terakhir,
dan di hadapannya,
semua lidah manusia terbakar habis.
—
16
Dahan yang Menjulur ke Langit
Dahan Zaqqūm bukan sekadar kayu,
melainkan lengan raksasa yang haus akan langit.
Ia menjulur,
meraba-raba awan,
mencakar bintang,
berusaha menelan bulan.
Namun langit menolak,
bintang berlari,
bulan sembunyi di balik kabut.
Dahan itu terus bergerak,
mencari sesuatu yang tidak pernah bisa digenggam,
seperti manusia yang mengejar kuasa tanpa batas,
seperti raja yang ingin jadi dewa,
seperti dewa yang ingin jadi Tuhan.
Setiap kali ia gagal meraih cahaya,
ia menunduk kembali ke bumi,
menusuk tanah,
membelah dada manusia,
menyerap darah mereka
sebagai ganti bintang yang tak bisa ditangkap.
Dahan itu adalah ambisi.
Ia tumbuh tanpa henti,
tak pernah puas,
tak pernah kenyang.
Dan siapa pun yang berlindung di bawahnya
akan tahu:
naungan ambisi hanyalah bayangan luka.
—
17
Buah yang Menyerupai Wajah Kita
Di malam neraka,
buah Zaqqūm bergoyang pelan,
seperti lampu gantung di rumah tua.
Orang-orang menatapnya,
dan tiba-tiba mereka melihat wajah mereka sendiri.
Bukan wajah di cermin,
bukan wajah di foto,
melainkan wajah asli:
penuh dusta, penuh serakah, penuh darah.
Buah itu tersenyum dengan senyum mereka,
menangis dengan tangis mereka,
tertawa dengan tawa mereka.
Mereka takut,
mereka mundur,
tapi pohon itu mengikuti.
Karena buah Zaqqūm adalah daging dosa
yang mereka pelihara di dunia,
yang kini tumbuh kembali
sebagai wajah mereka sendiri,
digantungkan di neraka
sebagai hiasan kekal.
Tidak ada jalan keluar.
Wajah itu adalah warisan.
Dan manusia hanya bisa menatap dirinya sendiri
sampai mata mereka meleleh oleh bara.
—
18
Awan yang Menolak Hujan
Di atas Zaqqūm,
ada awan yang bergumpal pekat,
tapi tak pernah menjatuhkan hujan.
Ia hanya berkumpul,
menjadi massa gelap yang berat,
menggantung rendah,
mengancam,
tapi tak pernah melepaskan tetes air.
Orang-orang menengadah,
mereka berharap setetes embun,
setitik kesejukan,
sehelai rahmat.
Namun awan itu menolak.
Ia hanya memuntahkan kilat,
petir yang menghantam batang Zaqqūm,
membuatnya makin membara.
Begitulah dosa:
menjanjikan kesejukan,
memberi harapan pada tenggorokan yang kering,
tapi pada akhirnya menurunkan api,
membakar sisa-sisa asa.
Awan yang menolak hujan
adalah janji dunia
yang tidak pernah ditepati.
—
19
Buah yang Meledak di Lidah
Ada manusia yang nekad,
menggigit buah Zaqqūm dengan rakus,
berharap kenyang dalam sekejap.
Namun baru saja gigi mereka menembus kulitnya,
buah itu meledak—
pecah menjadi semburan api,
memercikkan bara ke seluruh wajah.
Lidah mereka terbelah,
gigi mereka meleleh,
kerongkongan mereka hangus.
Buah itu tidak dimakan,
melainkan memakan manusia.
Ia menelusup ke dalam tubuh,
mencari jalan ke jantung,
menghuni paru-paru,
menyalakan api di perut.
Setiap gigitan adalah kehancuran,
setiap kunyahan adalah kiamat kecil,
setiap telan adalah pengadilan.
Mereka jatuh berguling,
tapi buah itu tetap ada,
bergantung, menunggu giliran berikutnya.
Begitulah lapar di neraka:
tidak ada roti, tidak ada madu,
hanya buah yang meledak
di lidah manusia sendiri.
—
20
Pohon yang Menyimpan Nama
Zaqqūm bukan sekadar kayu dan bara,
ia adalah buku yang hidup,
perpustakaan api,
arsip yang tak bisa dibakar.
Di setiap helai daun,
tertulis nama manusia.
Di setiap serat batang,
terpahat sejarah dosa.
Di setiap akar,
terikat jejak langkah yang tak pernah terhapus.
Mereka yang melihat,
mencari namanya,
dan menemukannya di sana,
terpahat dengan jelas,
tak bisa dihapus,
tak bisa ditukar.
Nama-nama besar,
nama-nama kecil,
nama-nama yang pernah diagungkan,
nama-nama yang pernah dilupakan—
semua sama,
semua tertulis di sana,
dengan tinta api.
Pohon itu tahu siapa kita.
Ia adalah saksi,
ia adalah catatan,
ia adalah cermin yang tak bisa dibohongi.
Dan ketika manusia berusaha menyangkal,
pohon itu hanya bergetar,
buahnya jatuh,
dan dari dalam buah,
keluar suara:
“Namamu sudah tertulis.
Inilah pohonmu,
inilah panenmu,
inilah nerakamu.”
—
21
Akar yang Mengikat Langkah
Akar Zaqqūm bukan sekadar serabut,
ia adalah ular purba
yang melilit pergelangan kaki manusia.
Setiap kali mereka berusaha lari,
akar itu menegang,
menarik kembali tubuh mereka ke dalam lumpur api.
Tidak ada jalan mundur,
tidak ada jalan keluar.
Bahkan tanah pun menolak menjadi tanah,
ia berubah menjadi bara,
menyimpan dendam terhadap telapak yang dulu
menyombongkan diri di dunia.
Akar itu hafal setiap tapak,
ia mengenal arah langkah yang pernah sombong,
jalan-jalan sunyi yang pernah diinjak
tanpa menoleh pada yang lapar dan miskin.
Kini, akar itu balas dendam.
Ia mengikat, menjerat, mematahkan tulang.
Ia adalah masa lalu yang tak bisa dilupakan,
yang menjelma rantai di bawah pohon.
—
22
Bayangan yang Tidak Memberi Teduh
Ada bayangan yang jatuh dari daun Zaqqūm,
hitam, pekat, tebal,
namun tidak menyejukkan.
Mereka yang kelelahan mendekat,
berharap menemukan teduh.
Namun begitu masuk,
mereka mendapati bahwa bayangan itu
lebih panas daripada matahari.
Karena bayangan Zaqqūm
adalah bayangan dosa:
semakin kau mendekat,
semakin ia membakar.
Ia bukan keteduhan,
ia adalah kilatan kenangan
tentang setiap pengkhianatan,
setiap dusta,
setiap malam panjang yang dipenuhi mabuk kuasa.
Di dunia, manusia mencari pohon untuk berteduh.
Di neraka, bayangan pun menusuk seperti belati.
—
23
Burung yang Tak Pernah Bernyanyi
Di pucuk Zaqqūm,
ada burung hitam yang tak pernah bernyanyi.
Sayapnya patah,
paruhnya berkarat oleh api,
matanya buta oleh asap.
Ia hanya membuka mulut,
mengeluarkan jeritan tanpa suara,
sebuah keheningan yang menusuk
lebih tajam daripada pekikan.
Manusia menatapnya,
berharap mendengar nyanyian penghibur.
Namun yang mereka dapat hanyalah bisu,
sunyi yang membakar telinga.
Burung itu adalah jiwa-jiwa yang kehilangan lagu,
jiwa-jiwa yang dulu menolak ayat,
menolak panggilan azan,
menolak lantunan doa.
Kini, mereka menjadi burung bisu di pucuk pohon,
sayap terkoyak,
lagu tercabut dari kerongkongan.
Mereka masih ada,
tapi sudah bukan lagi nyanyian.
—
24
Getah yang Menetes ke Sungai Api
Batang Zaqqūm memar,
dan dari lukanya mengalir getah.
Namun getah itu bukan manis,
melainkan cairan pekat,
hitam, kental, membara.
Ia menetes sedikit demi sedikit,
masuk ke sungai neraka,
menyulut gelombang api
hingga bergolak lebih ganas.
Orang-orang yang kehausan
berlari ke tepi sungai,
menyendok cairan itu dengan tangan,
meneguknya dengan putus asa.
Namun begitu masuk kerongkongan,
getah itu berubah menjadi api cair.
Ia membakar lambung,
merobek usus,
melelehkan hati,
menyalakan jantung.
Dan mereka terus minum,
karena haus yang mereka tanggung
tidak pernah berakhir.
Begitulah dosa:
air yang menjanjikan sejuk,
tapi sejatinya bara yang abadi.
—
25
Pohon yang Menolak Doa
Ada manusia yang berlutut di bawah Zaqqūm,
menangis, memohon, meratap.
Tangan mereka menengadah,
mulut mereka melafazkan doa
dengan suara yang terputus-putus.
Namun daun-daun Zaqqūm tidak bergeming,
dahan tidak menunduk,
buah tidak jatuh.
Doa itu memantul kembali,
seperti panah kayu yang patah,
seperti batu yang dilempar ke langit
dan jatuh mengenai kepala sendiri.
Karena doa yang lahir dari mulut
namun tidak pernah tumbuh di hati
hanya akan menjadi asap tipis
yang segera hilang di udara neraka.
Pohon itu tahu,
pohon itu ingat,
pohon itu menolak.
Dan manusia hanya bisa terdiam,
menyadari bahwa doa bukan sekadar kata,
melainkan akar yang seharusnya ditanam
sebelum dunia runtuh.
—
26
Batang yang Menyimpan Jeritan
Batang Zaqqūm bukanlah kayu biasa.
Ia berlapis suara manusia,
jeritan yang dipahat ke dalam serat-seratnya.
Jika kau letakkan telingamu di batang itu,
kau akan mendengar rintihan,
isak yang tak berhenti,
nama-nama yang dipanggil tanpa jawaban,
doa yang terputus di tengah kalimat.
Batang itu bukan tubuh pohon—
ia adalah menara tangisan,
sumur tempat semua jeritan dilempar
lalu dipantulkan kembali,
hingga manusia mendengar suaranya sendiri,
dan sadar bahwa neraka
adalah gema yang abadi.
—
27
Daun yang Membisikkan Dusta
Daun Zaqqūm berdesir,
tapi desiran itu bukan angin.
Ia adalah bisikan.
Bisikan yang lembut,
manis,
menghibur,
seolah menjanjikan keluputan.
“Tidurlah,” katanya,
“semua ini hanya mimpi.
Kau tidak di neraka,
kau hanya tertidur panjang.”
Manusia yang mendengar terbuai,
menutup mata,
berharap terbangun di taman.
Namun begitu mereka membuka kelopak lagi,
yang mereka lihat tetap Zaqqūm,
tetap api,
tetap azab.
Daun itu tertawa,
menyanyikan dusta lain,
dan manusia kembali percaya.
Begitulah seterusnya:
daun itu adalah propaganda,
janji palsu,
narasi indah yang meninabobokan,
sementara api terus membakar tubuh.
—
28
Ranting yang Menjadi Belati
Ranting-ranting Zaqqūm runcing,
tajam,
berkilat seperti logam merah membara.
Mereka tidak diam.
Ranting itu bergerak,
menusuk tubuh yang mencoba mendekat,
membelah kulit,
merobek daging,
menyulam luka ke seluruh jiwa.
Tidak ada jalan untuk meraih buah
tanpa melewati belati ranting.
Tidak ada cara memetik daun
tanpa berdarah.
Pohon ini bukan hanya tumbuh—
ia adalah algojo yang bersenjata.
Setiap rantingnya adalah tangan maut
yang menyalin dosa manusia
menjadi goresan di kulit mereka.
—
29
Api yang Berakar di Dalam Buah
Di dalam setiap buah Zaqqūm,
ada api kecil yang meringkuk,
seperti janin merah yang tak pernah lahir.
Saat buah itu jatuh,
api kecil itu bangun,
merambat,
membesar,
menelan udara.
Manusia yang mencoba menginjak buahnya
akan mendapati bara itu merayap ke betis,
naik ke paha,
merambat ke dada,
hingga seluruh tubuhnya menjadi obor.
Buah itu bukan makanan,
melainkan rahim api
yang melahirkan bencana.
Dan api itu tertawa,
karena manusia selalu tergoda
untuk memetik,
untuk mencicip,
meski sudah tahu
bahwa lapar di neraka
tak akan pernah kenyang.
—
30
Pohon yang Berbicara dengan Lidah Iblis
Di malam paling gelap di neraka,
pohon itu berbicara.
Bukan dengan daun,
bukan dengan batang,
melainkan dengan suara yang keluar dari akarnya.
Suara itu dalam,
serak,
melingkar seperti ular,
menyusup ke telinga manusia.
“Aku adalah bayanganmu,” katanya,
“Aku tumbuh dari langkahmu,
dari darah yang kau tumpahkan,
dari janji yang kau khianati.
Aku bukan pohon asing,
aku adalah engkau.”
Manusia gemetar,
ingin menyangkal,
tapi akar sudah menjerat.
Dan suara itu terus berbisik:
“Jangan salahkan aku.
Aku hanyalah cermin.
Kaulah yang menanamku,
kaulah yang menyirami,
kaulah yang menjadikanku
Pohon Zaqqūm.”
—
31
Hutan yang Tumbuh dari Satu Pohon
Zaqqūm berdiri sendirian,
namun dari batangnya tumbuh bayangan hutan.
Setiap dahan berubah menjadi pohon lain,
setiap daun menjelma akar,
setiap buah melahirkan pohon baru
yang hanya bisa dilihat mata batin.
Manusia yang tersesat di dalam bayangan ini
berjalan tanpa akhir,
karena setiap kali mereka menebang satu pohon,
seribu lagi tumbuh dari bekas lukanya.
Hutan itu tidak pernah berhenti.
Ia adalah tiruan dari dosa-dosa manusia,
beranak-pinak,
berlipat ganda,
hingga bumi tak cukup untuk menampung.
Dan di tengah hutan itu,
pohon asal tetap berdiri,
tertawa pelan,
menyaksikan manusia menebang bayangannya sendiri
tanpa pernah bisa menghancurkan akar utama.
—
32
Buah yang Bernyanyi dengan Suara Anak-anak
Ada buah di cabang paling rendah
yang tiba-tiba bersenandung,
suara bening, ringan,
seperti nyanyian anak-anak di halaman sekolah.
Manusia terdiam,
mereka mendengar kata-kata polos,
lagu sederhana yang pernah mereka kenal,
nyanyian yang dulu mereka abaikan
saat mengejar angka, kuasa, dan emas.
Tapi kini, nyanyian itu menusuk.
Karena buah itu bukan anak-anak sungguhan,
melainkan gema dari jiwa polos
yang mereka lukai dengan keangkuhan.
Setiap nada adalah pertanyaan,
setiap bait adalah tuduhan.
Mereka yang mendengar menangis,
karena di dalam suara anak-anak itu
ada cermin kepolosan yang hilang,
yang tak pernah bisa kembali.
Dan buah itu terus bernyanyi,
seperti paduan suara kecil,
menyanyikan luka yang mereka tinggalkan di dunia.
—
33
Daun yang Menjadi Mata
Daun Zaqqūm tiba-tiba berubah menjadi mata,
ratusan, ribuan, berjuta,
menatap manusia dari segala arah.
Mata itu tidak berkedip,
tidak pernah tidur.
Ia menyimpan seluruh pandangan yang pernah mereka lakukan,
pandangan yang mencuri,
pandangan yang mengkhianat,
pandangan yang melukai.
Manusia berusaha menutup wajah,
tapi mata itu tetap menembus,
melihat lebih dalam dari kulit,
lebih jauh dari tulang,
hingga ke ruang paling rahasia dalam jiwa.
Mereka berteriak,
meminta mata itu berhenti menatap.
Namun pohon hanya bergeming,
membiarkan jutaan pandangan itu terus menusuk,
hingga manusia sadar bahwa
mereka tak pernah bisa lari
dari tatapan dirinya sendiri.
—
34
Akar yang Mengalirkan Bisikan Iblis
Di bawah tanah,
akar Zaqqūm berdesir.
Bukan air yang mengalir di dalamnya,
melainkan suara.
Suara itu halus,
menjalar ke kaki,
naik ke lutut,
menyusup ke telinga.
“Aku sudah bersamamu sejak awal,” katanya,
“aku membisikkan rencana
ketika kau ingin berbohong,
aku meniupkan ide
ketika kau ingin mencuri,
aku menuntun langkah
ketika kau haus kuasa.”
Manusia gemetar,
mereka ingat semua godaan,
semua bisikan yang pernah mereka anggap
suara hati sendiri.
Kini mereka tahu:
itu bukan sekadar bisikan—
itu adalah akar iblis
yang sejak lama tumbuh di bawah jiwa,
hingga akhirnya menjelma pohon
di neraka ini.
—
35
Pohon yang Menyimpan Cermin Api
Di tengah batang Zaqqūm,
ada retakan yang menyerupai cermin.
Namun bukan kaca yang memantul,
melainkan api yang beriak,
memantulkan wajah manusia dengan bentuk sejatinya.
Mereka yang berani menatap
akan melihat tubuh mereka sendiri,
bukan dengan kulit,
bukan dengan pakaian,
melainkan dengan dosa yang telanjang.
Setiap niat busuk muncul di sana,
setiap pengkhianatan mengambil rupa,
setiap dendam,
setiap serakah,
menjadi bentuk wajah baru.
Mereka menjerit,
memukul batang,
berharap cermin itu pecah.
Namun semakin keras mereka memukul,
semakin jelas bayangan itu muncul,
hingga mereka sadar:
yang terbakar bukan hanya pohon,
melainkan diri mereka sendiri.
—
36
Rawa di Dalam Batang
Batang Zaqqūm retak,
dan dari dalamnya mengalir rawa hitam.
Bukan air, bukan lumpur,
melainkan cairan pekat
yang berdenyut seperti darah.
Rawa itu bergolak,
mengeluarkan gelembung beraroma busuk,
setiap letupan membawa suara
dari manusia yang terperangkap di dalamnya.
Ada yang memanggil ibunya,
ada yang memohon maaf,
ada yang hanya tertawa histeris,
karena kewarasan mereka sudah habis dimakan panas.
Batang itu bukan kayu—
ia adalah wadah bagi rawa dosa,
kubangan yang tumbuh bersama pohon,
mengalir, menetes,
dan menenggelamkan siapa pun yang berani mendekat.
—
37
Buah yang Menyimpan Bayi Api
Ada buah Zaqqūm yang bentuknya aneh,
seperti rahim,
berdenyut pelan,
menyimpan sesuatu di dalamnya.
Ketika retak,
keluar sosok bayi api—
merah, kecil,
menangis tanpa suara.
Ia merangkak di dahan,
meraba batang,
dan jatuh ke pangkuan manusia.
Manusia yang merengkuhnya
merasakan tubuh mereka terbakar dari pelukan.
Namun mereka tak kuasa melepaskannya,
karena bayi itu menatap
dengan mata yang sama seperti anak-anak mereka di dunia.
Tangisan bayi api itu
adalah jeritan nurani yang pernah dibunuh,
jeritan cinta yang pernah ditelantarkan,
jeritan generasi yang dikhianati.
Dan kini, buah itu melahirkan mereka kembali,
bukan sebagai kehidupan,
melainkan sebagai api yang abadi.
—
38
Dedaunan yang Menjadi Kitab
Daun Zaqqūm bukan sekadar hijau hangus,
ia adalah halaman.
Jika kau tarik sehelai,
kau akan menemukan huruf-huruf terbakar di atasnya,
seperti tinta bara
yang tak bisa dihapus.
Setiap huruf adalah perbuatan,
setiap kalimat adalah kisah hidup,
setiap halaman adalah bab dosa
yang ditulis bukan oleh malaikat,
melainkan oleh pohon itu sendiri.
Orang-orang yang membacanya
menemukan sejarah hidup mereka,
ditulis tanpa sensor,
tanpa penghapus,
tanpa belas kasihan.
Kitab itu tidak bisa ditutup,
karena daun terus tumbuh,
dan dengan setiap helai baru,
kisah lain ditambahkan.
Zaqqūm adalah kitab yang menolak untuk selesai,
karena dosa manusia tidak pernah berhenti,
bahkan setelah dunia runtuh.
—
39
Akar yang Mencuri Nafas
Di bawah tanah neraka,
akar Zaqqūm menjalar seperti puluhan tangan.
Mereka mencari celah,
masuk ke dalam paru-paru manusia,
menyerap oksigen,
mengganti udara dengan asap.
Manusia terbatuk,
tercekik,
meronta mencari satu helai nafas,
tapi akar itu semakin erat,
membungkus dada,
menyusutkan paru,
hingga tubuh hanya bisa menganga
seperti ikan mati di daratan api.
Nafas adalah kehidupan.
Namun di bawah Zaqqūm,
nafas pun dirampas,
disimpan sebagai cadangan
untuk pohon itu sendiri.
Zaqqūm bernafas dengan paru-paru manusia,
hidup dengan nyawa orang lain.
—
40
Pohon yang Menjadi Takhta
Di puncak Zaqqūm,
ada cabang yang melebar,
menjadi singgasana api.
Di atasnya duduk bayangan,
tak berbentuk,
tak bernama,
namun berat,
seperti beban ribuan dosa yang dikumpulkan.
Bayangan itu tidak bicara,
tidak bergerak,
hanya menatap dari kejauhan
dengan tatapan yang membuat jiwa meriap.
Orang-orang berlutut,
bukan karena cinta,
bukan karena hormat,
melainkan karena lutut mereka dipatahkan
oleh berat pandangan itu.
Takhta itu bukan lambang kebesaran,
melainkan kursi pengadilan,
kursi kesepian,
kursi kehancuran.
Dan pohon itu terus tumbuh,
menjaga takhta itu tetap ada,
sebagai tanda
bahwa kekuasaan hanyalah bara
yang menelan siapa pun yang berani duduk di atasnya.
—
41
Lidah Api yang Berbicara
Di perut bumi, ketika kesunyian menjerit,
lidah api dari batang Zaqqum memanjat ke langit,
bukan sekadar kobaran,
melainkan suara purba yang tak pernah padam.
Ia berkata kepada mereka yang menolak kebenaran:
“Akulah jamuan dari kebohonganmu,
dari janji yang kau patahkan,
dari cinta yang kau jual kepada setan.”
Buahnya jatuh seperti percikan bintang busuk,
membakar jantung yang meneguknya,
menyisakan dahaga tak terpadamkan,
dan haus yang abadi seperti bayangan di padang pasir.
—
42
Jamuan dari Neraka
Tak ada perjamuan yang lebih mewah
bagi para penguasa sombong
selain meja api di bawah pohon ini.
Mereka duduk di kursi bara,
dengan cangkir berisi lahar mendidih,
dan buah Zaqqum disajikan sebagai hidangan penutup.
Satu gigitan adalah badai,
satu tegukan adalah petir,
dan setiap kunyahan menjelma
doa yang terlambat dipanjatkan.
Betapa indah pesta itu bagi iblis—
tawa mereka menjadi piring,
air mata menjadi anggur,
dan daging sendiri menjadi roti.
—
43
Bayi Api di Dahan Zaqqum
Di dahan pohon itu tumbuh bayi api,
matanya merah, bibirnya abu,
tangisnya tak terdengar kecuali oleh jiwa-jiwa terkutuk.
Mereka menyusu dari buah Zaqqum,
susu yang lebih pahit dari empedu,
lebih tajam dari pedang yang baru ditempa.
Setiap tetesnya menjadi belati,
mengoyak perut orang-orang yang memeliharanya,
dan perihnya menulis ayat-ayat neraka
pada dinding dada manusia.
—
44
Sajak bagi Orang yang Terlupa
O manusia yang melupakan asalmu,
lihatlah akar pohon ini,
menggeliat di dasar jantungmu sendiri.
Kau sangka neraka jauh di bawah,
padahal Zaqqum telah tumbuh dalam mulutmu,
dalam kata-kata dusta, dalam janji yang rapuh.
Sajak ini bukan ancaman,
tapi cermin bagi wajahmu yang retak:
kau adalah daun kering dari pohon itu,
jatuh tanpa musim, terbakar tanpa angin.
—
45
Malam di Bawah Pohon Zaqqum
Malam pun datang di neraka,
tapi bukan gelap yang menyelimuti,
melainkan cahaya api yang menari tanpa henti.
Pohon Zaqqum berbisik seperti hutan purba:
“Tak ada tidur di sini,
tak ada mimpi yang menenangkan,
hanya dahan-dahan yang menusuk ke dalam jiwa.”
Bintang pun enggan turun menatapnya,
bulan pun sembunyi di balik tirai bara,
karena malam di bawah pohon ini
adalah malam yang tak pernah mengenal fajar.
—
46
Dahan yang Menyulam Neraka
Dahan Zaqqum menjulur bagai jemari raksasa,
menyulam langit neraka dengan benang bara.
Setiap simpul adalah jeritan,
setiap sulaman adalah takdir yang tak dapat dicabut.
Ia merajut nasib mereka yang angkuh,
menjahit kesombongan dengan jarum api,
hingga pakaian mereka adalah luka,
dan tubuh mereka adalah kitab yang terbakar.
—
47
Buah yang Tak Pernah Layu
Buah Zaqqum tak mengenal gugur,
tak kenal busuk, tak kenal musim.
Ia abadi dalam kutukan,
selamanya matang dalam neraka.
Siapa pun yang menggigitnya,
akan menelan paku, besi, dan bara,
namun rasa lapar tak pernah pergi,
dan rasa haus menjelma sungai tak berbatas.
Buah itu adalah janji yang terbalik:
pahala bagi iblis,
dan racun bagi manusia.
—
48
Nyanyian dari Akar Terdalam
Di kedalaman bumi neraka,
akar Zaqqum bernyanyi dalam bahasa batu.
Nyanyian itu bukan melodi,
melainkan tangis yang membelah tulang.
Ia berkata:
“Akulah asal dari dosa yang kau tanam,
akulah hasil dari benih yang kau siram dengan kesombongan.”
Dan setiap orang yang berjalan di dunia,
menyirami akarnya dengan darah,
hingga di akhirat pohon itu tumbuh
menjadi cermin bagi dirinya sendiri.
—
49
Zaqqum sebagai Cermin Dunia
Lihatlah pohon ini, wahai manusia,
bukan sekadar neraka yang jauh,
melainkan wajah dunia yang kau biarkan membusuk.
Ia adalah hutan ketidakadilan,
pasar keserakahan,
istana para penguasa yang menelan rakyatnya.
Zaqqum adalah metafora dari sejarah:
pohon yang diberi pupuk air mata,
dibiarkan tumbuh oleh bisu-bisu yang takut bersuara.
—
50
Di Bawah Pohon Zaqqum
Di ujung segala sajak,
aku menutup kitab ini di bawah bayang Zaqqum.
Tidak ada penutup selain api,
tidak ada kesimpulan selain peringatan:
bahwa pohon ini bukan sekadar mitos,
melainkan tanda yang terpatri dalam jiwa manusia.
Siapa yang menanam dusta akan memetik buahnya,
siapa yang menyirami kesombongan akan minum dari batangnya.
Dan di akhir kata,
puisi ini hanyalah gema kecil
dari suara besar semesta yang berkata:
“Jangan kau biarkan Zaqqum tumbuh
dalam dirimu.”
—
Sumatera Barat, Indonesia, 2025.
Catatan:
Pohon Zaqqūm (شجرة الزقوم) adalah salah satu simbol paling menakutkan dalam kisah-kisah eskatologi Islam. Ia disebut dalam Al-Qur’an sebagai pohon neraka yang tumbuh di dasar Jahannam. Gambaran tentangnya sarat dengan simbol penderitaan, siksa, dan peringatan bagi manusia.
Berikut beberapa penjelasan:
Asal-usul dalam Al-Qur’an
Pohon Zaqqūm disebut dalam beberapa ayat:
QS. As-Saffat [37]: 62-68: digambarkan sebagai makanan orang-orang durhaka, buahnya menyerupai kepala setan.
QS. Ad-Dukhan [44]: 43-46: makanan orang-orang berdosa, seperti cairan besi mendidih dalam perut.
QS. Al-Waqi’ah [56]: 51-56: menjadi makanan bagi orang kafir, panas membakar perut mereka.
Makna dan Simbolisme
Buahnya yang mengerikan: digambarkan menyerupai kepala setan, sebuah metafora tentang kejelekan dan kengerian.
Makanan penyiksa: bukan untuk memberi kekuatan, melainkan menambah penderitaan.
Simbol dosa: pohon ini melambangkan hasil dari kesombongan dan penolakan terhadap kebenaran.
Tafsir Ulama
Sebagian mufassir menyebut bahwa Zaqqūm adalah pohon nyata di neraka, sesuai teks Al-Qur’an. Namun ada juga yang menafsirkan secara simbolis: bahwa ia adalah perwujudan dari amal buruk manusia yang menjadi siksaan.
Pesan Moral
Pohon Zaqqūm adalah pengingat bahwa setiap amal buruk akan berbuah pahit. Ia menjadi simbol dari konsekuensi spiritual: bahwa yang ditanam manusia di dunia akan tumbuh sebagai pohon di akhirat — manis bila baik, getir bila buruk.
Terimakasih