Rerleksi Ulang Tahun Imamat Ke-36 Tahun, RP. Anton Fanumbi, MSC
Oleh: Paulus Laratmase
–
“Bagaimana akan kubalas segala kebaikan Tuhan bagiku? Aku akan mengangkat piala keselamatan dan menyeruhkan nama Tuhan. Akan kubayar nazarku di hadapan seluruh umatNya,” demikian Motto Tahbisan yang dikutip dari Mazmur 116:12-14.
Sebagai yunior di Kampus Sekolah Tinggi Filsafat Seminari Pineleng, saya cukup mengenal dengan baik Romo Anton Fanumbi. Itu sebabnya di hari bahagia ini, saya sempat menelpon dan menanyakan sedikit kisah masa lampaun Romo Anton, awal sekolah di Seminari Santo Yohanis Maria Vianey Saumlaki dan Seminari Santo Yudas Thadeus Langgur sampi kulian di STFSP dan ditabiskan menjadi imam dalam tarekat Hati Kudus Yesus.
“Saya bersyukur kepada Tuhan yang telah memanggil aku di antara 80 siswa Seminari SYV Saumlaki ketika tahun 1973 masuk Seminari. Dengan Rektor P. Samuel Bomaris msc. Kemudian melanjutkan ke Seminari SYT Langgur dengan jumlah 10 orang dari Tanimbar dan bergabung bersama seminaris asal Kei Kecil dan Kei Besar,” demikian Romo Anton sapaan akrabnya mengwali kisahnya.
Romo Anton pun bercerita bagaimana bersama rekan-rekannya yang dinyatakan lulus masuk Seminari Tinggi di Manado.
“Sesudah tamat Seminari SYT 1978 dan lanjut tahun persiapan 1979, kemudian melanjutkan ke Seminari Tinggi Pineleng yakni 4 dari Tanimbar: saya, Alex Jempor, Kaspar Malindar dan Titus Lermatin dan 5 dari Kei juga yakni Emanuel Ohoiwutun, Victor Letsoin, John Bosco Ngamel dan Corneles Jamlean serta Petrus Warat. Kemudian bergabung Thomas Ratuanak setelah tamat dari Fakultas Hukum Universitas Pattimura Ambon.”
Lanjutnya, “Setelah studi Filsafat, saya, Manu, Neles dan Pit Warat memilih tarekat MSC sedangkan Viktor, Kaspar, Bosco dan Thomas masuk ke Projo, Alex dan Titus mundur setelah Filsafat. Dalam perjalanan Titus dan Alex ,Victor dan Bosco mengundurkan diri dari Pineleng. Thomas dan Kaspar akhirnya berpastoral di Maluku dan Kaspar meninggal di Ambon karena gagal ginjal. Bosco pergi Sorong dan masuk Projo Sorong kemudian ditahbiskan. Thomas juga akhirnya ditahbiskan dengan Fred Sarkol dan Pius Retob di Ambon. Cel Mayabubun tunda tahbisan. Sementara saya dengan Neles, Pit Warat dan Manu balik dari Novisiat lanjut sampai tamat, namun Neles tunda tahbisan dan Manu diakonal khusus lima tahun di Merauke.”
Akhirnya Anton, Pit Warat dengan Cel Mayab ditahbiskan di Olilit Timur tanggal 8 Januari 1989.
“Dari 80 anak SYV Saumlaki saya sendiri yang ditahbiskan imam dengan Rektor pertama saya P. Sam Bomaris MSC. Setelah ditahbiskan saya diutus Tarekat MSC bersama teman MSC Jawa dan 1 teman Papua. Saya bertugas selaman 28 tahun di Keuskupan Agung Merauke di 3 paroki pedalaman 1989-2000 dan dua paroki di kota Merauke 2005-2023. Kemudian pindah ke Tanimbar 2000 dan melayani paroki Alusi selama 3 tahun 2000-2003 dan pindah lagi ke paroki HKY Olilit Barat membantu P. Sam Bomaris MSC untuk Olilit Barat dan Olilit Timur 2004-2005,” ungkap Romo Anton.
Sesudahnya kembali ke Merauke dan melayani Paroki Sang Penebus 10 tahun sejak 2005-2014 dan Paroki St. Joseph Bampel 2015-2023. Di akhir mas pensiunnya, Romo Anton kemudian meminta pensiun dari Uskup P.C. Mandagi MSC dan balik ke Saumlaki.
Di Biara MSC Saumlaki, kendati dalam status pensiun Romo Anton masih melayani paroki Alusi dan paroki Arui 2023 dan sekarang bantu di paroki St. Petrus dan St. Paulus Lorulun 2024 sampai sekarang.
Terinspirasi dengan motto tahbisannya, Romo Anton mengatakan, “Aku tetap siap melayani umat-Nya hingga akhir hayatku.”
Selamat Ulang Tahun Imamat Romo Anton Fanumbi, MSC. Ratu Norang Nim Karya Ngamone Na NI Lete Dalam o o o… Ametur.