April 17, 2026

yusuf achmad

Sastraku menghakimi aku tersesat. Saat memilih untuk lurus.
Lekat pada pilihan tak tepat. Ruang lebar luas tersembunyi di
balik kabut.

Lengah tak menimbang dengan matang. Begitu lanjut puisiku
dengan congkak. Menghakimiku di pengadilannya. Tanpa
pembela membela.

Aku tertuduh seolah kriminal berat. Atau teroris berkianat
pada diri. Masa depan terpampang indah. Dengan segala
perangkatnya aku disudutkan.

Nasi sudah jadi bubur adalah ungkapan. Klasik tapi masih cocok
hingga kini. Karena badan jiwa tak bisa lagi. Terus tersesat
hingga kapan tiada jawaban.

Tapi aku hanya punya keyakinan kuat kokoh. Melawan syairku
meski tanpa banding. Kukatakan ini panggilan para tokoh. Kau
tak mungkin sebanding.

Menjadi guru adalah darah mengalir. Nenekku mengajari
mengaji. Aku senang, mengajar adalah panggilanku. Apakah
pengadilanmu ini benar?

Saat kau tawari untuk jadi manajer hotel bintang. Saat kau paksa
aku jadi manajer penjual barang. Saat materi jadi alat timbang
sembarang. Saat menurutku semua tak imbang.

Bukannya aku tidak pikir menimbang-nimbang. Meski tidak
mulus apalagi enak dan gampang. Meliuk-liuk dapur rumahku
berproses. Aku tetap yakin pilihanku sukses.

Tak kuanggap tuduhanmu cemerlang

Surabaya Juni 2023