PUISI UNTUK SAHABATKU
Oleh Petrus Peter Saiya/ Ayah Baruch)*
–
Datang kau diam-diam,
dalam impian daun-daun kayu putih,
membawa wangi kenangan
yang menyatu dalam irama orang Namlea—
tenang, kuat, penuh cerita jiwa.
Kau lewati badai yang berat,
tanpa banyak bicara, hanya langkah yang kuat.
Menangis, ya… dalam jiwa yang pasrah,
bukan karena kalah, tapi karena berserah.
Kebaikanmu—ah, siapa tak tahu?
Bagaikan Gunung Botak yang selalu dicari,
diam, gagah, dan tinggi,
semua tahu, semua rindu keteduhanmu.
Kau jalani semua jalan di Namlea,
setapak demi setapak,
melewati kerikil sakit,
meninggalkan rasa yang tak perlu lagi kau tangisi.
Sahabatku, kau melangkah
dengan iman dan impian yang kokoh,
seperti visi Indomaret:
berani mencoba, meski rintangan menggerogoti arah.
Jiwamu—adalah lagu pujian untuk Tuhan,
dengan napas dan hidupmu sebagai bait-baitnya.
Kau tak takut langkah baru,
karena kau tahu Tuhan sudah menunggu di ujung sana.
Biarlah kenangan tertulis
di jalan-jalan baru yang kaulalui,
seperti harum minyak kayu putih
yang menyembuhkan luka tanpa suara.
Senyumanmu—tenang dan tulus,
seperti pasir putih di Pantai Jiku Merasa,
menjadi tempat tenang bagi hati yang gelisah.
Kebaikanmu bawa berkah,
bukan hanya untukmu,
tapi untuk tetangga, untuk sesama,
untuk siapa pun yang duduk di sampingmu.
Berjalanlah dengan imanmu,
peganglah maksudmu yang murni.
Raihlah impian-impianmu,
meski dunia ini padat dan jalan terasa sempit,
karena hatimu luas, dan langit terbuka bagimu.
Kita selalu bertanya, sahabat selalu rindu
Walaupun selalu ada salah
Tetapi rasa tidak bisa di pungkiri
Kau sahabat bagi kita, bagi semua orang
Sahabatku pernah datang menyambut kita
Dia punya rasa yang hangat
Hangat seperti musim kemarau di namlea
Ah, wajah kami memandang ke depan
Menunggu sahabatku muncul
Mentari berlalu rembulan menanti
Sahabatku belum muncul
biarlah doa doa terbaik untukmu
Sahabatku—puisi ini adalah pelukan,
dari hati yang mengenalmu bukan hanya dari kata,
tapi dari langkah, luka, dan tawa.
Kau adalah berkat,
yang dikirim Tuhan untuk menguatkan dunia.
*(Tantui, 22 Mei 2025, By. Ayah Baruck adalah Sastrawan Asal Maluku