April 18, 2026

Yusuf Achmad

Siapa berani berkata bahwa sekolah dan kuliah pasti mengantar pada sukses?
Siapa menyangka si kecil mampu menggapai megah tanpa ijazah?
Siapa berani menjamin arus kehidupan selalu mengalir sesuai harapan?
Siapa hendak bertanya tentang siapa?
Hiruk pikuk pertanyaan yang berulang—seakan makna hanya tentang “siapa,”
Namun di baliknya, ada yang lebih dalam, lebih sunyi, lebih menantang.

Lalu, mengapa kita gemuruh dalam pertanyaan tanpa akhir?
Haruskah setiap pertanyaan menemukan jawabnya?
Haruskah segala kejadian tunduk pada logika belaka?
Apakah “apa” lebih rendah dari “siapa”?
Di manakah kebenaran bertempat tinggal?

Mungkin, “mengapa” menyimpan kesejatian logika,
Atau justru “bagaimana” yang meruntuhkan batas-batasnya.
Lihatlah si bocah bertanya lugu,
“Kenapa dokter menyuntik di pantatku, padahal kepalaku yang sakit?”
Atau mereka yang merumuskan dalil-dalil agama,
“Mengapa harus berwudu dan membasuh muka sebelum bersujud?”
Pertanyaan mengapa terus berkelindan di segenap ruang pikir manusia.

Seolah segalanya mesti tunduk pada nalar semata,
Namun bagaimana jika rencana telah ditakar, dipikir, dihampar, lalu hancur begitu saja?
Bagaimana jika bangunan megah baru saja berdiri, lalu roboh dihempas gempa?
Bagaimana jika puisi hanya deretan suara tanpa gema bagi mereka yang tak bersuara?
Ia mengembara ke relung hati para pemilik jiwa bening,
Bukan mereka yang terpenjara dalam hiruk pikuk pertanyaan tanpa akhir:
Siapa, apa, mengapa, dan bagaimana.

Surabaya, 22 Mei 2025