May 26, 2026

—sebuah esai prosa liris tentang negeri yang pura-pura senang
Oleh: Rizal Tanjung

Di Negara Bernama Slogan

Negeri kami merdeka.
Setidaknya begitu kata baliho di perempatan jalan.
Wajah-wajah tersenyum dengan mulut terbuka, bukan karena gembira—tapi karena lapar tak pernah sempat ditutup.

Merdeka, katanya.
Dengan iringan drum band dan nasi kotak yang isinya lebih banyak janji daripada lauk.
Dengan spanduk yang membentang seperti tirai yang menutupi luka-luka lama yang belum pernah dijahit benar.

Di negeri kami, kata “merdeka” dibungkus rapi dalam kardus bantuan.
Dibagikan saat kamera menyala, ditarik kembali saat kamera mati.
Sebab, kemerdekaan adalah konten. Dan penderitaan adalah branding.

Kemakmuran Versi Brosur Pemerintah

Kami hidup dalam negara brosur.
Kemiskinan dikemas sebagai ‘tantangan’,
pengangguran sebagai ‘kesempatan inovatif’,
dan harga sembako sebagai ‘dinamika pasar global’.

Setiap pagi kami sarapan dengan iklan:
tentang pertumbuhan ekonomi, tentang angka-angka ajaib yang tak pernah mampir ke dapur kami.

Kami disuruh bahagia,
dengan grafik yang naik,
padahal nasi kami turun dari dua sendok menjadi setengah.

Kami disuruh percaya,
bahwa subsidi dikurangi demi efisiensi.
Katanya: yang penting bukan diberi ikan, tapi kail.

Sayangnya, lautan pun sudah dijual.
Dan kailnya dijadikan proyek.

Rakyat sebagai Komoditas

Rakyat bukan lagi manusia.
Kami adalah angka dalam polling.
Objek survei. Sasaran bantuan.
Suara untuk ditukar dengan banner ucapan terima kasih yang hanya dipasang saat musim kampanye.

Negara ini bukan rumah, tapi start-up raksasa:
Yang mengelola aset bernama manusia,
Yang merancang program berdasarkan algoritma kapital.

Kami disuruh bersabar,
sementara sabun saja naik harga.
Kami disuruh bersyukur,
padahal sekolah gratis masih mahal karena seragam harus beli dari koperasi yang dimiliki istri lurah.

Perayaan Kemerdekaan yang Tak Lagi Tahan Lapar

Setiap tahun, kami naikkan bendera,
dan turunkan harapan.

Anak-anak berdiri tegak di lapangan,
padahal perut mereka meringkuk.

Di balik tiang bendera itu, ada warung yang tutup,
karena listrik naik, dan pelanggan habis.

Di mimbar, para pejabat pidato panjang,
tentang cinta tanah air—
sementara tanahnya sendiri sudah bersertifikatkan asing.

Merdeka adalah kata sakti
yang digunakan untuk menutupi fakta bahwa
kami masih dijajah—
oleh harga bahan pokok,
oleh sistem yang berlapis-lapis menjebak,
oleh pemilik modal yang tak bisa kami pilih tapi menentukan nasib kami.

Penderitaan dalam Bahasa Halus

Kini penderitaan sudah dibersihkan dari kata-kata.
Ia tak lagi disebut “miskin”, tapi “belum sejahtera”.
Tak disebut “lapar”, tapi “berpotensi rawan pangan”.
Tak disebut “tidak sekolah”, tapi “belum mengakses fasilitas pendidikan”.

Bahkan kematian pun kini dinamai “efek samping pembangunan.”

Luka diubati dengan istilah teknokratis,
dan penderitaan jadi data presentasi.

Kami ditenangkan oleh laporan tahunan,
dielus dengan narasi optimis,
disuntik harapan melalui iklan layanan masyarakat yang memakai aktor terkenal.

Jalan Sunyi Menuju Dunia Emas

Kami sedang menuju dunia emas,
kata mereka,
tapi kami hanya melihat emas itu digali dari pegunungan kami,
dikirim ke luar negeri,
dan meninggalkan lubang-lubang dalam tanah serta jiwa kami.

Dunia Emas adalah pesta yang undangannya tidak kami terima.
Kami hanya diminta berdandan rapi,
bertepuk tangan,
dan tidak bertanya.

Dan jika kami bertanya, kami dicurigai.
Jika kami marah, kami disuruh diam.
Jika kami demo, kami disemprot gas air mata—karena air bersih tidak tersedia.

Generasi yang Belajar dari Noise

Anak-anak kami belajar dari TikTok,
tentang cara jadi kaya tanpa perlu berpikir.
Mereka diajari lebih baik menjadi viral daripada kritis.
Lebih baik tampil daripada memperbaiki.

Sejarah ditulis ulang lewat influencer,
dan pahlawan dibentuk dari pengikut, bukan pengorbanan.

Mereka tahu siapa seleb politik,
tapi tak tahu siapa yang menyabotase masa depan mereka.

Di Negara Bernama Sabar

Negeri ini ahli menciptakan sabar.
Sabar saat harga BBM naik.
Sabar saat rumah digusur.
Sabar saat janji tinggal baliho.

Kami dibesarkan dalam kesabaran yang tak pernah diberi waktu istirahat.

Dan ketika rakyat mulai lelah,
mereka bilang itu dosa.
Katanya, kita kurang bersyukur.

Seolah-olah lapar itu kesalahan pribadi.
Seolah kemiskinan adalah akibat malas, bukan sistem yang memang malas menyentuh keadilan.

Merdeka yang Tak Pernah Kita Pegang

Apa arti merdeka jika setiap harapan digadaikan demi proyek nasional?

Apa makna “bangsa besar” jika kita tak bisa memberi makan semua anaknya?

Apa gunanya pembangunan jika yang dibangun hanyalah citra,
sementara kenyataan tinggal di rumah-rumah yang atapnya bocor setiap hujan turun?

Merdeka seharusnya bukan seremoni.
Ia seharusnya kenyataan sehari-hari.
Ia seharusnya terasa di meja makan, di ruang kelas, di rumah sakit.

Merdeka seharusnya adalah hak,
bukan hadiah dari negara,
bukan alat tukar suara.

Rakyat tidak butuh perayaan.
Kami butuh keadilan yang tidak sekadar ditulis di undang-undang,
tapi terasa di harga cabai.

Kami tidak ingin slogan.
Kami ingin sarapan.

Kami tidak ingin baliho besar.
Kami ingin kesempatan kecil yang nyata.

Kami tidak ingin Dunia Emas,
jika emas itu tidak bisa kami pegang—
jika kami hanya disuruh jaga pintu dan mengucap:
“Selamat datang di kemerdekaan, mohon jangan tanyakan ke mana perginya kesejahteraan.”

Sumatera Barat, 2025