April 17, 2026

yusuf achmad

Tiba-tiba kau menyeruak dalam doa,
Menyelinap di antara kekhawatiran dan dosa.
Bayangmu bergetar dalam lorong-lorong lara,
Mengantar langkah menuju lembar takdir selanjutnya.

Engkau bukan musuh hidup, tetapi sekutunya,
Dibenci oleh sang pemilik napas,
Sebab ia lupa, kau tak pernah ingkar janji.
Kadang kau hadir dengan tanda—bisikan yang samar.

Tanda yang tak selalu siap disambut,
Kadang menggurat luka di ujung senja,
Kadang datang perlahan, menanti dengan sabar,
Kadang—aku ingin kau menjelma layaknya tidur yang tenang.

Batinku merintih, bisikku tak akan henti,
Biar ku arungi sungai ini, menantang arusmu yang sunyi.
Jika kau tak suka disebut lawan,
Sebutlah dirimu pasangan takdirku yang pasti.

Biarkan aku melangkah bersamamu,
Biarkan pasanganmu tetap menjaga kekasihku.
Kumohon, pasanganmu hadir dengan setia,
Membawa bahagia hingga kau akhirnya memanggilnya.

Lalu dalam peraduan abadi—kita bersatu tanpa jeda.

 

Surabaya 25 April 2025