April 18, 2026

“Suara Awan Merindu Hujan”: Kumpulan Puisi (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA)

lINA SUARA AWAN MERINDU HUJAN

Ilustrasi "Suara Awan Merindu Hujan": Kumpulan Puisi (PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA), Editor: Leni Marlina. Sumber Gambar: Starcom Indonesia's Artworks No. 925-270 (Assisted by AI).

Editor: Leni Marlina

/1/

Suara Awan Merindu Hujan

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Hidup kami saat ini bagaikan awan,
Kami tak jatuh, tak pula lenyap,
menggantung di langit-Mu, sebagai beban tanpa bunyi,
sebagai rahasia yang tak luruh.

Tuhan,
Jika Engkau izinkan,
pecahkanlah kami tanpa ampun,
biarkan tubuh ini meledak dalam hujan panjang,
menusuk jantung tanah yang retak,
mengisi sungai yang kehausan sejarah.

Jika Engkau kehendaki kami tetap menggelayut,
jadikanlah kami mendung yang mengandung makna,
bukan sekadar bayang yang menggelapkan dunia,
tapi atap bagi bumi yang terbakar.

Jika Engkau tiadakan kami sebelum jatuh,
jadikanlah kami uap yang menghilang dalam kesunyian,
tanpa gemetar, tanpa sesal,
karena setiap tetes telah Engkau hitung,
karena hilang pun tetap kembali pada-Mu.

Wahai Tuhan,
Sang Pencipta Alam Semesta,
Maha Kuasa di Bumi dan di Langit,
kami memohon pada-Mu,
hujankan kami,
hapuskan kami,
atau biarkanlah kami menanggung beban langit selamanya,
asalkan kami tetap bagian dari rencana-Mu,
asalkan kami senantiasa hidup di bawah ridho-Mu.

Padang, Sumbar, 2014

/2/

HUJAN JATUH

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Jatuh.
Tumbuh.
Luruh.

Membasuh tanah,
menghapus arah.

Derasnya sabda.
Tajamnya asa.

Rahmat.
Dahaga.
Satu wajah, dua makna.

Padang, Sumbar, 2014

/3/

Hujan Datang dan Pergi

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Ia datang—
sebagai doa yang tumpah,
sebagai amarah yang pecah.

Ia jatuh—
menusuk bumi,
menyulam sungai,
meluruh batas sunyi.

Ia pergi—
tanpa janji,
tanpa sisa selain jejak di dada tanah,
dan luka yang tak selalu basah.

Padang, Sumbar, 2014

/4/

Hujan Turun Hati Bersyukur

Puisi oleh Mira Salsabila

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Penyala Literasi]

Setiap rasa yang ingin berteriak akan panasnya gelombang hati
di suasana hampa pedih akan badai hidup ini

Jiwa yang panas mulai mereda ketika Yang Maha Kuasa menurunkan hujan dari langit di kala sore menjelang senja

Ketika hujan turun hati bersyukur
Perasaan jiwa tentram dan tenang sehingga diri jauh dari kata kufur
Dalam hujan diri ini senantiasa bersyukur
Ku tahu nikmat kehidupan ini Yang Maha Kuasa telah mengatur

Mampu kah diri untuk selalu bersyukur
Jangan pendam nilai nilai keburukan yang menjadikan diri ini hancur
Kala hujan datang hati selalu bersyukur
Indah suara hujan seakan seirama bersama hati yang tenang
Jiwa tak lagi gelisah
Hati resah seketika hilang lah sudah
Sebab hati terkesima dalam ketenangan bersama hujan yang turun
dan ribuan doa doa menjadi terhimpun
Pada ilahi rabbi diri ini menjadi manusia yang tak lupa berucap syukur

Padang, Sumbar
23 Januari 2025

—————————————
Mira Salsabila, M.Pd. meruppakan Guru PAI SDN 09 Surau Gadang kecamatan Nanggalo Padang, Sumbar.

/5/

Hujan yang Lupa Jatuh

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Hujan pernah dijanjikan langit,
tetapi ia memilih menjadi bayangan,
seperti bisikan yang tak sempat bernama,
seperti isyarat yang kandas di tepi angin.

Ia mengembara di retakan awan,
tak hendak luruh ke pelukan tanah,
menggigil dalam takdir yang samar,
menjadi catatan yang tak selesai ditulis.

Siapa yang mengingat hujan
jika ia tak pernah tiba?
Siapa yang merindukannya
jika ia hanya ilusi di kelopak waktu?

Barangkali ia ingin menunda ajalnya,
menolak lebur dalam sungai yang gelisah,
menolak menjadi kesedihan di jendela pagi,
menolak terhapus oleh kaki yang tergesa.

Hujan yang lupa jatuh
tak pernah menjadi luka,
tak pernah mengalir ke dalam puisi,
hanya tinggal di langit—
tergantung di tepian tiada.

Padang, Sumbar, 2014

/6/

Hujan Menolak Jatuh

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Hujan menolak jatuh.
Ia menggantung di langit seperti luka yang tak mau mengering,
seperti dendam yang menunggu tanahnya sendiri.
Ia tak ingin menjadi air,
sebab air sering kali hanya dipakai untuk mencuci noda,
untuk melupakan apa yang seharusnya diingat.

Di bawahnya, dunia sudah terlalu sering disiram—
bukan oleh hujan,
tetapi oleh darah yang mengalir di jalanan kota yang tak lagi punya nama.
Di setiap sudut,
atap-atap menampung tangisan yang tak bersuara,
lorong-lorong menjadi ladang kenangan yang dipendam,
dan udara menyimpan bisikan mereka yang tak sempat selesai berbicara.

Hujan ingin jatuh,
tapi ia tahu:
jika ia turun sekarang, ia akan dipaksa menjadi penghapus.
Menghapus jejak-jejak kaki yang berlari dari rumahnya sendiri,
menghapus nama-nama yang diukir pada batu-batu nisan tak dikenal,
menghapus pekik yang nyaring namun dipadamkan.

Jadi hujan menunggu.
Ia menolak menjadi air yang lunak,
ia ingin menjadi yang lain—
mungkin gemuruh yang meledak di langit,
mungkin pisau cahaya yang membelah pekat,
mungkin gelombang yang menyeret sejarah kembali ke tepi kesadaran.

Tetapi suatu hari,
di suatu sudut yang nyaris tak terlihat,
ada sepasang mata yang menengadah—
bukan dengan takut, bukan dengan pasrah,
tetapi dengan tuntutan.
Dan dari bibir yang pecah karena dahaga,
lahirlah suara yang lebih tua dari langit itu sendiri:
Turunlah bukan untuk menghapus,
tetapi untuk menulis ulang.

Maka hujan pun jatuh,
bukan sebagai air yang pasrah,
tetapi sebagai bait-bait yang meretas luka,
sebagai api yang membakar batas,
sebagai ingatan yang tak mau lagi dibungkam.

Padang, Sumbar, 2014

/7/

Bertanya dan Berdoa Ketika Hujan

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Kami pernah bertanya,
mengapa air mata jatuh dari langit,
mengapa hujan memiliki suara,
mengapa ia menampar tanah tanpa takut,
lalu mengalir diam-diam seperti pelarian.

Ya Tuhan,
jika ini adalah bahasa yang Engkau berikan kepada kami,
ajarkanlah kami membaca tanda-tandanya,
agar kami tahu mana tangisan rindu
dan mana luka yang Engkau sembuhkan.

Jika air hujan ini adalah sisa-sisa langit,
jadikanlah kami seperti ia:
tak menuntut tempat untuk jatuh,
tak gentar terhantam tanah keras,
tak ragu mengalir menuju muara yang Engkau tentukan.

Dan jika akhirnya kami menguap,
biarkanlah kami kembali ke-Mu sebagai sesuatu yang ringan,
menjadi awan yang melayang tanpa beban,
karena kami telah menyampaikan segalanya
dalam bahasa yang Engkau berikan di dada dunia.

Padang, Sumbar, 2014

/8/

Tangisan Awan

Puisi oleh Nuris Fatmawati

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Jateng, Kreator Era AI]

Terseok langkah ini entah ke mana ‘kan menuju
harapkan satu asa kentara. Bak tangisan awan
Menggantung bersama pekatnya
Saujana. Kurindu tangisan awan

Kuyakini ia ‘kan paham cerita kalbuku.
Terlukis indah bersama bingkai hari
Berlomba bersama detak detik kian kemari
Entah ke mana. Kucari jawabnya

Kurindu tangisan awan
Kala jiwa hanya berteman sedu sedan
Mencari jalan hingga entah
Tiap saat hati gundah

Kau cerita terindah yang kutulis kala awan menangis
Kau lukisan nyata dari abstraknya
Kau adalah inspirasi tertuang dari semua sisi
Ya, kau pun paham mengapa diri memuji

Langkahkan kaki bersama,
lewati aral penuh liku,
menanjak lalu turun,
curam.
Bersama tangisan awan, setia basahi padang kegersangan.

Temanggung, Jawa Tengah
23 Februari 2025

——————————————
Nuris Fatmawati kelahiran Temanggung – Jawa Tengah, 20 Oktober 1982. Memiliki hobi belajar bahasa asing, mendalami bahasa daerah (Jawa), hobi menulis dengan huruf-huruf Carakan (Jawa). Memiliki 20an karya solo berbagai genre dan 60-an karya antologi berbagai genre. Lulusan SMK YPM 5 Panjunan-Sukodono, Sidoarjo- Jawa Timur tahun 2000. Anggota Satupena Jawa Tengah. Memiliki beberapa nama pena dikarenakan mengembangkan hobi menulisnya di platform online.

/9/

Berjalan Dalam Hujan yang Tak Terlihat

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Kami berjalan dalam hujan yang tak terlihat,
tetes-tetesnya tak membasahi tubuh,
tapi menyusup ke dalam dada,
menjadi beban, menjadi kelam,
menjadi sesuatu yang tak bisa dihapuskan dengan tangan.

Ya Allah,
jika Engkau mendengar hujan ini berbisik,
jawablah dengan petir yang membangunkan,
dengan cahaya yang membelah gelap,
dengan angin yang menyingkap hijab antara kami dan kejujuran.

Jika Engkau melihat kami tertatih,
jadikan hujan ini sungai di bawah kaki kami,
bawa kami mengalir, mengikis batu-batu yang melukai,
membawa kami ke laut-Mu yang luas,
tempat segala keresahan lebur menjadi keheningan.

Dan jika hujan ini harus tetap turun,
biarkan ia membasuh dosa-dosa kami,
mencuci langkah yang tersesat,
hingga kami tiba di pintu-Mu dalam keadaan bersih,
tak membawa apa-apa selain hati yang Kau bentuk ulang.

Wahai Pengatur Langit,
hujankan kami, hancurkan kami,
atau biarkan kami mengering tanpa pernah jatuh,
asalkan kami tetap menuju-Mu,
asalkan tak ada setetes pun yang tersesat dari-Mu.

Padang, Sumbar, 2014

/10/

Hujan Turun Bagaikan Palu Keadilan

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Saudaraku yang menangis pilu,
di matamu aku lihat,
hujan turun.
bukan rintik, bukan gerimis.
Ia bukan sajak melankolis, bukan nyanyian nostalgia.
Ia palu keadilan yang jatuh tanpa tawar-menawar.

Hujan menerjang atap gedung-gedung megah,
menyeret janji-janji yang ditulis di atas kertas basah,
menghapus tinta tipu daya yang tak lagi bisa bertahan.

Hujan menyusup ke lorong-lorong ruang rapat,
menjilat permadani tempat langkah-langkah angkuh meninggalkan jejak.
Ia bertanya:
Berapa banyak rakyat yang kau telanjangi dengan setelan jas mahal itu?
Berapa banyak sungai yang kau penuhi dengan sisa proyekmu?
Berapa banyak kata yang kau jual dengan harga kekuasaan?

Hujan tak butuh laporan audit.
Ia membaca kebusukan dalam genangan,
menelanjangi angka-angka yang dipulas dengan kata ‘anggaran’
dan disulap menjadi vila di seberang lautan.

Hujan mengalir ke jalan-jalan retak,
mencium aroma tubuh yang digilas beban pajak,
mendengar keluhan petani yang tak lagi punya sawah,
melihat mata bocah yang kosong menatap jatah makannya lenyap.

Hujan turun, tak memilih waktu.
Ia menerjang tiang-tiang tinggi yang berdiri di atas janji busuk,
mengguyur topeng-topeng yang mulai luntur,
mencari celah untuk menghancurkan kebohongan.

Dan ketika hujan menggenang,
ia bukan sekadar air.
Ia sumpah yang tak bisa ditarik kembali.
Ia amarah yang menunggu saatnya jadi gelombang.
Ia pasang surut yang akan menenggelamkan
mereka yang tak pernah mengenal kata cukup.

Hujan tak mengampuni.
Ia turun, ia menghakimi,
dan yang basah adalah mereka yang pernah berkhianat,
di tanah yang dulu mereka sumpahi untuk dijaga.
Ketika tiba waktunya,
usaplah hujan di matamu saudaraku.

Padang, Sumbar, 2014

/11/

Hujan Pagi di Desaku

Puisi oleh
Nasri A. Muhammad Abduh

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Makassar, Kreator Era AI]

Sahabat, di pagi yang mulai menipis kabut,
angin bertiup lembut, melambai dedaunan.
Fajar hadir dengan rona keemasan,
hingga setengah delapan, alam terjaga dalam ketenangan.
Namun, langit tiba-tiba dihantam gelap,
awan hitam menutup wajah bumi,
lalu hujan turun, memeluk tanah yang haus,
mengalir dalam ritme yang penuh rahasia.

Di rumah yang menanti, sepi menunggu,
tukang-tukang datang dan pergi,
tak ada kata, hanya langkah yang terhenti,
mungkin hujan yang mengguyur mereka,
mungkin alam yang memutuskan jalan.
Tak ada yang tahu pasti,
selain yang datang dari langit itu—
hujan yang membawa keberkahan
di tetesnya,
di detiknya,
membasuh jiwa yang lelah,
menyuburkan tanah yang terlupakan.

Namun di desa ini,
hujan pagi selalu membawa berkat,
seperti rezeki yang datang tanpa disangka,
seperti hidup yang terlahir kembali
setiap kali bumi merengkuh airnya.

——————————————-
Andi Nasri Abduh merupakan penulis kelahiran Ujung Pandang, bekerja sebagai Pustakawan Ahli Pertama dan Pengajar di Universitas Hasanuddin.

/12/

Hujan yang Menghapus Nama

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Kami jatuh bukan untuk dikenang,
bukan untuk dirayakan dalam sajak-sajak yang gagal abadi.
Kami hanya air—tanpa tanah yang menunggu,
tanpa daun yang merindu,
tanpa cinta yang memeluk.

Kami mengalir dalam sunyi yang tak terbaca,
menyusup ke pori-pori bumi yang kehilangan doa,
mencari celah di antara batu-batu yang membatu,
menyentuh akar yang lupa cara tumbuh.

Kami tak butuh salam, tak butuh nyanyian,
tak ingin dipuisikan oleh lidah yang asing,
tak ingin dilekatkan pada waktu yang mengelupas.
Kami hanya ingin lenyap sebelum rindu tiba,
sebelum mata menangkap bayang kami yang samar.

Kami bukan hujan yang jatuh di bulan Juni,
bukan gerimis yang menyusup ke jendela puisi.
Kami adalah kepergian tanpa suara,
jejak yang tak butuh dikejar,
nama yang tak perlu diingat.

Kami turun—lalu hilang.
Tak ada yang memanggil, tak ada yang mengantar.
Kami hanyalah air,
yang menghapus jejak sendiri sebelum dunia mengingatnya.

Padang, Sumbar, 2014

/13/

Tuhan, Jadikanlah Hati Kami Telaga Luas

Puisi oleh Leni Marlina

[PPIPM-Indonesia, Poetry-Pen IC, Satu Pena Sumbar, Kreator Era AI, FSM, ACC SHILA]

Ya Tuhan,
Jika senyuman adalah cahaya-Mu yang jatuh ke wajah kami,
biarkanlah ia menjadi butiran gerimis yang pecah di kelopak pagi,
memantul di riak-riak hati yang letih,w
membakar benci seperti matahari melahap embun terakhir.
Jangan biarkan ia padam sebelum menjadi fajar.

Jika amarah membanjiri dada kami seperti badai di gurun,
biarkanlah ia menggulung, mengempas, memecah batu ego,
hingga hanya kelembutan-Muw yang tersisa di pasir jiwa kami.
Janganlah biarkan kami karam dalam gelombang diri sendiri.

Wahai Tuhan,
Saat kesedihan menyergap seperti kabut yang menelan cakrawala,
biarkanlah ia meresap ke tanah perjalanan kami,
menghidupi akar yang nyaris mati,
menumbuhkan pohon sabar di lembah kesunyian. Janganlah biarkan ia tumbuh tanpa buah harapan.

Jika sakit mengetuk tubuh kami seperti hujan yang tak diundang,
jadikanlah ia hujan deras yang mencambuk gurun,
melukai tanah, mengikis bebatuan,
tapi di akhirnya, menyuburkan.
Janganlah biarkan kami retak tanpa menjadi emas.

Dan bila keraguan adalah bayang-bayang yang mengikuti langkah,
jadikanlah kami angin yang merobek kabutnya,
menelusuri jalan rahasia yang Engkau ukir di atas langit,
melangkah tanpa takut ke negeri yang tak bernama.
Janganlah biarkan kami tersesat di persimpangan semu.

Ya Allah,
Kami mohon sayangi kami yang mengeja dan menyebut nama-Mu dalam butiran doa,
jadikanlah hati kami telaga luas,
menampung langit, menampung dunia,
tanpa pecah, tanpa keruh, tanpa kehilangan birunya.

Jauhkanlah kami dari fitnah yang membakar tanpa nyala,
biarkanlah langkah kami menjadi sungai yang jernih,
mengalir menuju samudra kebenaran-Mu,
tanpa pernah kembali ke hulu dusta.

Wahai Tuhan Pemegang Takdir,
jadikanlah kami hujan di jalan-Mu,
turun, mengalir, menyelinap di akar-akar rahasia,
menghidupi bumi,
lalu lenyap dalam keabadian-Mu.
Janganlah biarkan kami menjadi debu yang lupa arah angin.
Berilah kami kekuatan dan tuntunlah kami di dunia ini, mempersiapkan diri ketika Engkau memanggil kembali,
mempersiapkan bekal pulang selamanya,
ketika sampai masanya.

Padang, Sumbar, 2014

——————————————–
——————————————–
Kumpulan puisi Leni Marlina di atas (puisi no. 1, 2, 3, 5, 6, 7, 9, 10, 12, 13), awalnya ditulis secara bilingual (Inggris-Indonesia) oleh Leni Marlina. Mulanya ia hanya menulis puisi tersebut sebagai hobi dan koleksi puisi pribadi tahun 2014 (setahun setelah ia menamatkan program pascasarjana di bidang Writing & Literature (Literary Study, Creative Writing, and Children’s Literature) di Australia dengan beasiswa dari Pemerintah Indonesia. Puisi tersebut direvisi kembali serta mulai dipublikasikan secara bertahap untuk pertama kalinya melalui media digital tahun 2025.

Leni Marlina sampai saat ini merupakan anggota aktif Asosiasi Penulis Indonesia, SATU PENA cabang Sumatera Barat sejak berdiri tahun 2022; Komunitas Kreator Indonesia Era AI. Selain itu, ia juga merupakan anggota aktif Komunitas Penyair dan Penulis Sastra Internasional ACC di Shanghai, serta dipercaya sebagai Duta Puisi Indonesia untuk ACC Shanghai Huifeng International Literary Association. Leni pernah terlibat dalam Victoria’s Writer Association di Australia. Sejak tahun 2006, ia telah mengabdikan diri sebagai dosen di Program Studi Bahasa dan Sastra Inggris, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Padang.

Leni Marlina juga mendirikan dan memimpin komunitas digital / kegiatan lainnya yang berfokus pada bahasa, sastra, pendidikan, dan sosial, di antaranya:

1. World Children’s Literature Community (WCLC): https://shorturl.at/acFv1
2. Poetry-Pen International Community (PPIC)
3. PPIPM (Pondok Puisi Inspirasi Pemikiran Masyarakat), the Poetry Community of Indonesian Society’s Inspirations: https://shorturl.at/2eTSB; https://shorturl.at/tHjRI
4. Starcom Indonesia Community (Starmoonsun Edupreneur Community Indonesia):
https://rb.gy/5c1b02
5. Linguistic Talk Community
6. Literature Talk Community
7. Translation Practice Community
8. English Languange Learning, Literacy, Literary Community (EL4C)