April 18, 2026

(Balada puitis tentang Lelemuku)

Oleh: Rizal Tanjung

Angin berbisik lirih di balik jendela senja,
menyusupkan rindu dari pelupuk langit
yang tak pernah letih menyimpan bayangmu
dalam lipatan awan yang gemetar.
Ia datang seperti dongeng yang tak pernah mati,
seperti nyanyian leluhur dari puncak Lelemuku,
yang menyebut satu nama dalam keheningan malam:
Wanu.

Suma Halena berdiri di ambang cahaya,
menatap batas cakrawala yang menjauh,
di mana terakhir kali Wanu berlayar,
membawa janji yang tak sempat disematkan
di sela-sela rambutnya yang mengurai
seperti ombak di Laut Seram.

“Aku akan kembali sebelum purnama kesembilan,”
begitu katanya,
dan Halena menyulam tanggal di kain tenun
dengan benang-benang emas dari langit timur,
tapi bulan terus berubah,
sementara langkah Wanu tak kunjung pulang.

Ada tangis yang dititipkannya pada angin,
tangis yang tak pernah basah,
namun dalamnya seperti samudra malam,
tempat cahaya karam dan doa-doa terapung,
mencari wajah yang tak pernah benar-benar pergi,
mengendap dalam nyanyian burung malam,
mengendap dalam detak-detak waktu
yang dipelihara oleh harapan.

Setiap senja, Suma Halena menulis namanya
di daun-daun lontar dan kulit pohon matoa,
agar semesta tak lupa,
bahwa ada cinta yang tumbuh dalam diam,
namun bergemuruh di dada seorang perempuan
yang tak pernah lelah menunggu.

“Kau tahu, Wanu,” katanya pada malam,
“rinduku bukan seperti gerimis yang datang lalu hilang,
ia adalah badai yang memilih diam,
menjadi bayangan di langit senyap,
lagu di antara dedaunan gugur,
luka yang kucintai meski tak sembuh.”

Ia menyulam mimpi dengan benang biru laut,
melihatmu berdiri di ujung perahu,
tersenyum, memanggil,
namun ketika fajar datang,
semuanya sirna,
tinggal suara burung cendrawasih
dan sunyi yang mengendap di ruang hati.

Tapi Halena percaya,
bahwa angin tak hanya membawa debu dan daun,
melainkan pesan rahasia,
bisikan cinta dari hati yang tak menyerah,
yang memilih setia meski dunia menua.

Dalam peluk bayanganmu,
ia temukan keabadian yang sederhana:
senyuman di tengah tangis,
genggaman di antara kehilangan,
tatapan yang menyelamatkan
jiwa yang hampir karam
di antara pasang dan surut ingatan.

Wanu, engkau adalah sajak yang tak selesai,
ditulis di udara,
dalam napas yang ditahan,
dalam detak jam yang melambat,
karena waktu pun tunduk pada namamu.
Ia tahu:
ada cinta yang bertahan dalam sunyi
dan dibacakan angin dari pagi ke pagi.

Langit menyimpan rahasia kita.
Setiap awan adalah cerita,
setiap hujan adalah air mata
yang tak jatuh ke bumi,
melainkan terapung di antara doa,
menunggu saat kau kembali.

Suma Halena tak ingin menyalahkan jarak,
karena mungkin,
perpisahan ini adalah jalan cinta
menemukan kekekalannya.
Ia belajar mencintaimu tanpa harus memiliki,
menunggu tanpa menghitung waktu.

Dan angin—
oh, angin yang setia memeluk Lelemuku,
ia pelihara tangis ini
agar tak menjadi hujan,
melainkan puisi,
syair yang hanya bisa dibaca oleh hati.

Maka jika malam ini kau merasa sunyi, Wanu,
letakkan telingamu di jendela dunia,
biarkan angin membisikkan kisah ini:
tentang Halena,
tentang cinta yang tak pernah pulang,
namun juga tak pernah benar-benar pergi.
Cinta yang tumbuh di pegunungan dan laut,
yang abadi dalam nyanyian
Tangis yang Dipelihara Angin.

Sumatera Barat, 2025.