Tangis yang Dipelihara Angin
Oleh: Rizal Tanjung
–
Angin berbisik lirih di balik jendela senja,
menyusupkan rindu dari pelupuk langit
yang tak pernah letih menyimpan bayangmu
dalam lipatan awan yang gemetar.
Ada tangis yang kutitipkan padanya,
tangis yang tak pernah basah,
tapi dalamnya seperti samudra malam,
tempat cahaya karam dan doa-doa terapung,
mencari wajahmu yang tak pernah benar-benar pergi.
Aku menulis namamu di setiap embusan angin,
agar semesta tak lupa,
bahwa di bumi ini ada cinta yang begitu diam,
namun bergemuruh dalam dada seorang yang menunggu.
Kau tahu, kasih,
rinduku bukan seperti gerimis yang datang lalu hilang,
ia adalah badai yang memilih diam,
menjadi bayangan pada setiap langit senyap,
menjadi lagu di antara dedaunan gugur,
menjadi luka yang kucintai.
Malam demi malam kutemui engkau
dalam mimpi yang tak ingin kuakhiri,
dan pagi demi pagi,
kutemui kenyataan yang masih bertanya,
mengapa jarak adalah takdir yang begitu kejam?
Tapi aku percaya,
angin tak sekadar membawa debu dan daun gugur,
ia juga membawa bisikan,
pesan rahasia dari hati yang saling menunggu,
yang tak pernah menyerah meski dunia menua.
Dalam peluk bayanganmu,
aku temukan keabadian yang sederhana:
sebuah senyum di tengah tangis,
sebuah genggam di antara kehilangan,
dan tatapan yang mampu menyelamatkan
jiwa yang telah lama karam.
Kau adalah sajak yang tak pernah selesai,
yang kutulis dalam udara,
dalam napas,
dalam detak jam yang semakin lambat setiap kali kau jauh.
Bahkan waktu pun tunduk pada namamu.
Ia enggan berlalu cepat
karena tahu:
aku masih mencintaimu dalam sunyi
yang dibacakan angin dari pagi ke pagi.
Langit menyimpan rahasia kita.
Setiap awan adalah cerita,
setiap hujan adalah air mata yang dipelihara oleh rindu,
dan setiap petir adalah jeritan batin
yang tak sempat terucap.
Namun aku tak ingin menyalahkan jarak,
karena mungkin, dalam perpisahan inilah,
cinta kita belajar menjadi kekal.
Dan angin—
oh, angin yang setia memeluk dunia,
ia pelihara tangis ini dengan lembut,
agar tak membasahi bumi,
agar tetap menjadi syair
yang hanya bisa dibaca oleh hati.
Maka jika kau merasa sunyi malam ini,
letakkan telingamu di jendela,
biarkan angin membisikkan puisi ini,
tentang aku,
tentang kamu,
dan tentang cinta
yang tak pernah pulang,
namun juga tak pernah benar-benar pergi.
Sumatera Barat, 2025.