Suara Anak Negeri News

Jembatan Suara Rakyat

Tapi Mengapa Suharto Berhak Disebut Pahlawan 

Alex Runggeary

Pada masa G30S/PKI 1963 – 66, situasi Indonesia terpuruk hingga ke kedalaman tak terperi. Situasi kehidupan rakyat Indonesia yang melorot sehingga melarat. Situasi ini belum pernah terjadi sebelumnya ataupun sesudahnya.Situasi sebelumnyapun tidak baik baik amat

Apalagi kami yang pernah hidup rukun damai semua tercukupi pada masa Belanda yang pada dasarnya – TERETIB HUKUM, JUJUR DAN DISIPLIN DALAM BEKERJA -mengalami shock luar biasa. Butir Beras terakhir tiba – tiba menghilang. Beras yang diimpor dari Singapura menghilang dari peredaran. Digantikan dengan beras merah penuh beling yang penjualannyapun sangat terbatas.

Kami beralih makan hasil kebun berupa keladi dan singkong. Beras putih yang tersisa disimpan atau lebih tepat disembunyikan dari mata jalang dan tangan panjang. Sekalipun ditanya saudara sendiri, “Ada beraskah ?” Selalu dijawab, “Tidak ada !” Saking susahnya membuat orang baik hati menjadi pelit.

Untuk membeli pakaian yang stocknya sangat terbatas, orang harus mengantri dalam antrian panjang untuk membeli kupon. Kemudian kupon ditukar dengan baju yang tersedia. Tidak bisa memilih baju mana yang sesuai selera. Baju baju inipun dari bekas impor jaman Belanda sebelumnya yang tersimpan rapi di gudang – gudang Nigimij – perusahaan logistik masa Belanda. Karena secara mendadak Belanda harus pulang kampung.

Dan saya bisa membayangkan situasi sulit ini tidak hanya kami di Serui saja yang mengalaminya melainkan ini pasti dialami juga di seluruh Indonesia. Pada masa yang sama justru Indonesia keluar dari PBB. Semakin memperburuk perdagangan internasional dengan Indonesia. Semakin mengucilkan dari hubungan internasional dengan negara lain.

Dalam situasi ekonomi negara yang terendah, pak Harto berdasarkan Surat Perintah 11 Maret 1966 mengambil alih kepemimpinan di Indonesia yang pada awalnya bertujuan memulihkan situasi KEAMANAN Nasional dari pengaruh buruk PKI dan kemudian beliau dilantik menjadi Presiden pada 27 Maret 1968 oleh MPRS.

Diakui ataupun tidak beliaulah yang memulihkan situasi keamanan nasional yang ambruk gara gara ulah PKI. Seperti yang dilukiskan olrh teman saya Rusdian Lubis, ” Setelah Ayah kembali dari Operasi Dwikora ia mendapatkan tugas untuk turut serta menghadapi dan menangani situasi kaos rakyat yang saling berhadap – hadapan karena perbedaan ideologi. Ketika kembali dari operasi semacam itu, kini lebih banyak berdiam diri dan lebih sering merokok di pojok rumah. Entah apa yang sedang dipikirkannya”

Bisa dibayangkan pergumulan bathin seorang prajurit yang harus patuh pada perintah atasan tanpa ada peluang untuk berkelit. Secara mental sangat berat memang. Tetapi ini saja memberikan gambaran kepada kita situasi yang dihadapi negara pada saat itu. Konon ada 3 juta orang yang terbunuh di Jawa Tengah, Jawa Tumur dan Bali. Ini disampaikan Sarwo Edhie Wibowo sebagai komandan sebagaimana terbaca di sosial media Facebook 2025. Bukanlah ini gambaran situasi keamanan nasional yang tidak mudah bukan ?

Dalam situasi seperti ini pak Harto sebagai Pimpinan tidak punya banyak pilihan. Pilihan memulihkan KEAMANAN NASIONAL berikut RESIKO mengorbankan mereka yang menyebabkan kekacauan tersebut.

Tidak hanya presiden atau komandan tetapi siapapun dia yang kemudian harus mengambil tanggung jawab sebagai Pimpinan sesungguhnya tidak punya banyak PILIHAN. Apakah dalam.situasi KALUT ataupun AMAN, sebagai PIMPINAN selalu dan pasti berhadapan dengan – memilih dan memutuskan berikut menanggung resikonya. Ibarat dua sisi mata uang. Ini sebenarnya makanan sehari – hari sebagai Pimpinan, apakah presiden, komandan, para manajer perusahaan, pak RT atau siapapun yang bertanggung – jawab terhadap satu unit kecil atau keseluruhan organisasi, baik swasta maupun pemerintah. Adalah bagian ALAMI yang diemban dalam keseharian seorang pemimpin.

Maka ketika pak Harto menjadi presiden beliau memutuskan untuk melakukan hal terbaik bagi bangsa Indonesia, MEMBANGUN EKONOMI dan Pembangunan pada umumnya. Beliau merencanakan pembangunan tersebut melalui REPELITA yang dibahas dan dikaji oleh para ahli dibidangnya.

Siapakah dari kita yang hendak menyangkal pembangunan di segala bidang yang dilakukan pak Harto ? Di hati kita bisa membenci karena berbagai alasan. Namun pada waktu yang sama hasil pembangunan yang kasat mata tak dapat dipungkiri siapapun. Dan tentu tak dapat dihapus begitu saja dari ingatan karena benci

Dalam mewujudkan PILIHAN PEMBANGUNAN di segala bidang itu bagi Rakyat Indonesia maka PILIHAN RESIKO yang melekat itu tidak dapat dihindarinya yaitu menjaga stabilitas keamanan nasional berikut segala macam ikutannya termasuk membungkam mereka yang berseberangan yang di dalamnya juga Pers.

Pilihan ini yang memiliki RESIKO IKUTAN yang memang tak bisa dihindari dalam konteks Indonesia pada waktu itu. Inilah yang dianggap sebagai DOSA pak Harto sehingga beliau tidak layak diusulkan menjadi Pahlawan. Tetapi ketika kita bisa memahami bahwa berdasarkan pengalaman sejarah yang pahit dan keadaan rakyat yang memerlukan uluran tangan pemerintah disatu sisi dan sisi lainnya menjaga stabilitas nasional, dengan mengorbankan aspek demokrasi dan tentu kemanusiaan bukanlah satu pilihan yang MUDAH.

Kebalikan dengan pak Harto adalah GusDur yang lebih memilih jalan demokrasi dan kemanusiaan berikut resikonya. Beliau menjadi Presiden tersingkat yang dipilih rakyat secara demokratis. Ternyata justru disingkirkan dalam sistem demokrasi yang menjadi idola banyak pihak itu tanpa bisa berbuat banyak. Suatu ironi yang menyakitkan sekaligus menjadi fakta tak terbantahkan

Jadi sebenarnya bukanlah salah atau benar, baik ataupun buruk, melainkan kesadaran dari kuta bahwa setiap pilihan dalam hidup ini ada resikonya. Pikirkanlah !

Demikian juga pak Harto pada dasarnya – terperangkap dalam pilihan situasi yang rumit. Apakah beliau akan lari dari tanggung jawab ketika ada pro kontra beliau dijadikan Pahlawan? Saya kira beliau menyadari posisinya sebagai pemimpin dan ia hanya akan tersenyum, senyum khasnya, ” Lebih enak jamanku toh ?”, tanpa perlu berebutan Posisi Pahlawan. Sebagai seorang pemimpin ia menyadari sesungguhnya kalau ada orang membencinya, itu bagian resiko yang harus ditanggungnya. Tetapi itulah seorang Pemimpin sejati yang namanya Suharto dan oleh karena itu menjadi wajar kalau ia menjadi seorang PAHLAWAN
———————————–
Timika, Papua, 14 November 2025