April 17, 2026

TAYUB DAN LENGGER MASAL: SUARA TUBUH YANG MENJAGA TANAH

Puisi Esai oleh Luhur Susilo – SMPN 1 Sambong dan Pengurus Satupena Blora

Lengger Bicara 2025: Rianto, Srintil, dan 400 Penari Hidupkan Budaya Banyumasan Kompas.com – 23/06/2025, 10:42 WIB Fadlan Mukhtar Zain, Gloria Setyvani Putri Tim Redaksi Tari kolosal dalam puncak acara Lengger Bicara 2025 di Stadion Satria Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Minggu (23/6/2025) malam.

BANYUMAS, KOMPAS.com – Setelah tahun lalu memecahkan rekor MURI dengan melibatkan 10.000 penari, pagelaran Lengger Bicara kembali dihelat untuk kali kedua. Puncak acara bertema Satria Swarna digelar di Stadion Satria Purwokerto, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Minggu (23/6/2025) malam.[]

Di bawah lampu stadion yang berpendar laksana matahari kedua,
empat ratus tubuh bergerak serempak—
bukan sekadar tari, tapi getar sejarah
yang merambat dari ujung kuku hingga jantung ibu pertiwi.

Mereka bukan penari biasa,
mereka pewaris kabut dinihari dan tembang bambu,
anak-anak gunung Slamet
yang menari bukan untuk panggung, tapi untuk keberlanjutan makna.

Lengger bukan hanya tubuh yang meliuk,
ia adalah akar yang menari,
adalah doa yang berbalut selendang,
adalah suara ibu yang berbisik dalam irama gendhing:
“Jangan lupa asalmu, Nak.”

“Tubuhku ini arsip yang menari—
bukan untuk menghibur,
tapi mengingatkan.
Dulu Srintil dicibir, kini ia ditonton,
semoga tidak dilupakan setelah lampu padam.”

Satria Swarna, mereka menyebutnya,
tarian emas dari tanah yang subur dengan cerita dan luka.
Srikandi-srikandi muda dan ksatria-ksatria kecil
memijak tanah stadion seperti memijak altar leluhur.
Lengger dan tayub menyatu,
menghapus sekat antara hiburan dan kebijaksanaan.

Hujan turun sebelum acara dimulai—
bukan pertanda buruk, tapi restu dari langit.
Karena air selalu tahu,
di mana kesungguhan disemayamkan.

Pagelaran ini bukan panggung biasa:
ia adalah mimbar kearifan yang jarang ditemukan
di antara riuh TikTok dan maraknya budaya cepat saji.

Rianto membuka tubuhnya sebagai kitab,
Narsih menyulam masa lalu ke rambut para cucu,
Tohari memahat kata menjadi pusaka.

Dan publik—
anak-anak muda yang datang dengan hoodie dan sneaker—
diam, terpukau, lalu bertanya:
“Apakah ini yang disebut rumah?”

“Aku pernah dibuang karena menari,
kini mereka memanggilku pulang dengan tepuk tangan.
Tapi apakah mereka sudah mengerti,
bahwa menari adalah caraku menangis?”

Kita menyaksikan lebih dari tarian—
kita menyaksikan tubuh-tubuh
yang menolak dilupakan oleh zaman.
Tayub bukan sekadar joget,
ia adalah diplomasi sunyi antara manusia dan semesta.
Lengger bukan sekadar seni,
tapi bahasa bumi yang mencari pendengar baru.

Panitia menyebutnya regenerasi budaya,
tapi barangkali ini adalah kebangkitan jiwa.
Saat anak muda bersedia menggerakkan tubuhnya
dalam irama lama yang nyaris punah,
maka yang hidup bukan cuma kesenian—
tapi harapan.

Karena sebuah bangsa tak pernah benar-benar mati
selama tubuh-tubuhnya masih tahu
bagaimana cara menari.

Rumah Tua, 23 Juni 2025

[ https://regional.kompas.com/read/2025/06/23/104201378/lengger-bicara-2025-rianto-srintil-dan-400-penari-hidupkan-budaya.]