April 17, 2026
A hungry stomach, a mouth, a wise monkey, and an adult Muslim in Indonesia contemplating

Yusuf achmad

Bulan Ramadan dirindukan. Dengan hati pikiran agar bisa berarti. Tiap detak jarum jam terus dihitung. Menunggu bibir basah, lidah berkecap, berbuka. Bertarung perut dan hidung. Rasa lapar harus dikungkung. Hidung mencium bau harus terlindung. Bahkan dari ingin dan kemauan mengungkung. Dari harum ataupun yang lezat.

Matapun juga demikian. Terjaga dari godaan merugikan. Tetap jaga yang di antara bawah perut. Begitupun mulut harus ditutup. Dari menggunjing atau cemberut. Saat bulan dirindukan, katanya mengalahkan kera sakti yang bertapa lama sekali.

Setara sebulan tuntas. Saat itu Ramadan menawari. Yang dirindukan ditunggu umat sejagat. Kuharus tahu syarat rukunnya. Agar benar beribadah. Meskipun berat kan kupenuhi. Kusyukuri ada-Nya. ini karunia-Mu agung. Aku tak tahu bagaimana berkata dan berbuat. Sebagai baktiku pada-Nya. Muliahkah aku karena ingin kuberubah. Menjadi seperti si kera sakti. Mana lebih utama menjadi orang mulia atau berubah.

Merenungi mengambil inti. Sari pembelajaran bulan mulia, suci. Tidak lupa dan membawa ke esok hari. Bagi perbaikan diri tak perlu mulia hanya bukti.

Berubah setelah hari suci.

Surabaya, 20-7-2023