Cahayamu
Yusufachmad Bilintention
Lama kutak menyapamu,
kataku pada bintang yang dulu kusebut
burung besi bermata satu.
Temanku bilang: ia mirip mesin pemantau,
menatap diam dari langit yang tak bersuara.
“Loh, kau kini punya anak atau teman?”
tanyaku, separuh ragu, separuh ingin tahu.
Kau tetap bungkam, bersanding cahaya lain
yang lebih kecil, tapi sama-sama bisu.
Cahaya kalian kutatap dari kejauhan—tak sama.
Gemerlap toserba, jajaran makanan beraneka rupa,
mobil dan motor saling mendekat tanpa sapa,
lalu entah siapa tengkurap bersinggungan,
wajahnya bercahaya, tapi tak bernyawa.
Kucari cahaya sejati,
bukan dari kilau palsumu, duhai temanku,
bukan terang sendu yang hanya memantul
tanpa sumber, tanpa ruh.
Cahayamu akan kusimpan,
kurenungi kata buku:
“Barang siapa tak menemukan penghalang di hatinya,
maka ia akan hancur.”
Kutak tahu,
apakah kalian penghalang itu,
atau justru pemicu penghalang satu
menuju tiada penghalang—hanya satu.
Surabaya, 12 agustus 2025