Puisi Keluar Masuk
yusuf achmad
Puisiku menatap lekuk tubuhnya. Lalu bertanya, “Mengapa bentuk tubuhku begini?” Kujawab itu bentuk idaman di masa pandemi. Kujawab santai, bila tidak ia akan marah nanti.
“Jadi bentuk masa kini dan saat pandemi, apa namanya?” Tak puas satu pertanyaan, ia tanya lagi. “Iya, itu bentuk berangkat pulang saja.” Jawabku kemudian, memuaskan hatinya.
“Berangkat pulang bagi siapa dan berangkat pulang kapan?”
Bagi usahawan berangkat susah, dan pulang nyaman.
“Bagaimana bagi penjahat, penjambret, koruptor dan pencuri?”Untuk pencuri berangkat pulang penjara itu biasa saja. Bagi koruptor di luar gembira, di tv senyum bahagia dan di penjara bermewah. Apakah koruptor, penjahat, penjabret dan pencuri punya dosa yang sama? Mereka sebenarnya seperti kita juga, bisa salah dan dosa. Apabila mereka terima hukuman dan bertobat, itu juga obat di dunia-akhirat.
“Bagaimana dengan pasangan suami istri?” Bagi istri berangkat itu menyenangkan. Bagi suami kerja dan perjuangan. “Kapan mereka menikmati?” Saat pulang dan berangkat kompak. Saat cinta hati tak ada curiga, saat bergelembung-gelembung nikmat bersama. “Bagaimana denganmu, pemilikku?” tanya puisi. Bagiku hidup adalah menjelajah untuk kembali ke rumah abadi.